04
Mar
08

PILKADA DI DEPAN MATA

Pada bulan Juli 2008, bersamaan dengan pemulihan Gubernur Jawa Timur, Bondowoso juga akan mengadakan pemilihan kepala Daerah secara langsung. Sampai saat ini, belum ada satupun kandidat yang secara resmi memiliki rekomendasi dari partai pengusungnya sebagai kandidat resmi.

Partai Kebangkitan Bangsa sebagai partai terbesar masih melaksanakan proses-proses Musyawarah Kebangkitan (MUSKIT) dengan persainagn ketat antara Drs. Samsul Hadi (anggota DPRD Jatim) dengan Drs. Amin Said Husni (anggota DPR-RI). Sementara partai Golkar masih menunggu rekomendasi yang diperebutkan Drs. Misnan dengan Huzaini Effendi. Partai lain masih membutuhkan koalisi untuk dapat memberangkatkan calon. Sementara ini, PPP dengan beberapa partai naampaknya akan mengusung KH. Salwa Arifin sebagai jagonya, sedangkan PDIP lewat Irwan Bakhtiar yang ketua DPC PDIP masih sekedar melontarkan kesiapan maju dalam pilkada


5 Tanggapan ke “PILKADA DI DEPAN MATA”


  1. 1 Agus Susanto
    Senin, 31 Maret, 2008 pukul 1:39

    Surat Terbuka Untuk Yang Mulia

    Kondisi perpolitikan memang sedang dalam masa pancaroba yang rawan, akan banyak keresahan, semua sedang bersaing dalam konteks politik praktis, energi lebih banyak tercurah pada aktivitas saling mengintip lawan, mencurigai Kawan, mencari-cari kelemahan sesama untuk kemudian menjadikan kambing hitam.
    Energi Kita terkuras untuk mengeksploitasi/membesar-besarkan kelemahan sesama (Black Campaigne), sehingga Kita kehabisan Energi untuk berkreativitas konstruktif, sementara penderitaan sekeliling makin menganga.
    Kita memang ditakdirkan jadi makhluk yang berpolitik (Zoon Politicon), tapi persoalan perpolitikan tak semestinya lalu membuat Kita melupakan persoalan kehidupan yang juga sedang merebak.
    Kita merindukan kondisi perekonomian yang lebih baik, agar Kita bisa menata kembali kehidupan kearah yang lebih baik.
    Kemiskinan adalah hal yang harus juga mendapat prioritas perhatian Kita, karena kemiskinan membuat Rakyat lalu melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tak Kita senangi.
    Rakyat hanya belajar untuk bisa bertindak untuk sekedar bisa menyelamatkan diri.
    Lalu Hidup bukan saja tak dinikmati, tapi juga tak dijiwai, semua lalu jadi remeh demi lepasnya dari himpitan kemiskinan.
    Ironisnya pada kondisi yang penuh derita, lalu muncul kecenderungan pola berpikir (pada sekelompok lapisan Elite Masyarakat), ketika melihat orang lain menderita, lalu kesalahan ditimpakan pada korbannya.
    Dengan pola pikir ini, perasaan bersalahnya karena tidak bisa membantu korban, menjadi reda, bahkan dengan pola pikir ini, dirinya merasa bersyukur, karena bukan dia yang mendapat bencana.
    Mungkin Kita masih ingat pada cerita Aesophos, dimana Ketika Seekor Srigala tak berhasil menggapai buah anggur yang ranum yang ingin diraihnya, Sambil pergi Srigala lalu mendengus, “Ach Anggur Masam”.
    Terinspirasi dari cerita Aesophos tersebut, Para psikolog lalu menyebut perilaku manusia yang menyalahkan target ini sebagai rasionalisasi “Anggur Masam” (Sour Grapes).
    Sementara William Ryan, Sosiolog ahli kemiskinan, menyebut kerancuan berpikir ini sebagai sikap “Blaming The Victim” (Menyalahkan Korban).
    Kemiskinan lalu disimpulkan sebagai akibat rendahnya sumber daya masyarakat itu sendiri, mereka melarat karena kurangnya semangat berwiraswasta, tidak memiliki hasrat untuk maju/berprestasi, sikap gampang menyerah, malas dan sebab-sebab lain yang dalam Sosiologi disebut “Culture of Proverty” (Budaya kemiskinan).
    Pendek kata, alasan yang rasional-mudah mengapa Rakyat miskin adalah karena kesalahan Rakyat itu sendiri !!!. yang bertanggungjawab atas kemiskinan adalah orang-orang miskin sendiri.
    Dengan demikian pihak yang beruntung dapat melepas tanggung jawab dan menghindari tanggung jawab sosialnya.
    Menyimak sejarah jaman Barbar Kita lalu akan gampang menemukan, betapa banyak konstruksi Egoisme monumental memang dibangun dengan mengorbankan Rakyat kecil, Piramid-piramid Mesir konon dibangun oleh ribuan budak.
    Budak-budak yang mati kelaparan, sakit, atau kecelakaan kemudian dikuburkan menjadi satu disamping bangunan piramid (mungkin dengan maksud agar di alam kuburnya Firaun tetap dilayani budak-budaknya ?).
    Pembangunan tembok besar Cina pun konon ,pada beberapa bagian, dibangun dari bahan adukan yang bercampur mayat dari Rakyat kecil yang mati saat ikut membantu mendirikan kemegahan Tembok Cina.
    Taj Mahal yang kemudian menjadi simbol Kisah cinta sejati para elite kerajaan, toh juga ternyata pada pembangunannya memakan korban sejumlah Arsitek dan Rakyat kecil miskin yang mendirikannya.
    Secara sepihak memang Piramida, Tembok Cina, Taj Mahal kemudian dikenang sebagai sebuah monumen yang gagah, bahkan kemudian Kita menyebutnya sebagai Keajaiban Dunia.
    Persepsi Sejarah memang ditentukan oleh selera Penguasa Politik, bukan oleh Rakyat, apalagi oleh Rakyat yang miskin, (aach salahnya sendiri kenapa jadi Rakyat Miskin !!!). maka keZalimanpun jadi kepahlawanan.
    Tapi Pihak yang beruntung lainnya, punya argumen yang religius (Salam Hormat dari penulis untuk KH.Muis) atas semua fenomena tersebut, dengan menyatakan bahwa Kemiskinan adalah masalah takdir, bahwa kemiskinan adalah kehendak Allah juga.
    Pernyataan tersebut hendak menunjukkan bahwa ada dasar Teologis untuk kemiskinan yang diderita oleh Rakyat, ada pembenaran dari Agama untuk semua proses pemiskinan ummat.
    Lebih lanjut lalu muncul pemikiran bahwa yang perlu diatasi bukanlah kemiskinannya itu sendiri, karena itu sudah kehendak yang Maha Kuasa, tapi apa upaya Kita supaya si Miskin merasa puas dengan keadaan kemiskinannya, agar Mereka tak menuntut, agar Mereka tak memberontak, agar Mereka tak mengganggu ketenangan pihak yang kaya, yang (katanya) sedang berkarya untuk kepentingan yang lebih besar.
    Pembenaran Teologis ini membuat perampas hak dan kesempatan orang, menjadi lega, tenang, adem ayem.
    Sementara pihak si Miskin-pun makin sering mengelus dada yang kian sesak.
    Kemiskinan memang tak dengan sendirinya lalu otomatis menimbulkan keresahan.
    Kemiskinan menjadi meresahkan bila secara kontras berhadapan dengan kemewahan.
    Bila Semua orang makan dengan lauk Kerupuk, tak akan ada yang resah. Namun bila Anda hanya mampu makan dengan lauk sepotong tempe, sedangkan kawan Anda secara mencolok makan Ayam Goreng yang empuk plus lalapan di depan Anda, tidakkah perasaan Anda lalu resah ?.
    Para Sosiolog menyebut kondisi tersebut sebagai Kesenjangan Sosial, dan kesenjangan sosial selalu menimbulkan Keresahan sosial (Social Unrest), yang pada gilirannya akan menimbulkan konflik sosial, kondisi psikologi sosial yang gampang marah, tidak toleran.
    Kesenjangan sosial adalah masalah persepsi, orang miskin merasa dirinya sebagai korban yang kemudian tidak diperhatikan, mereka melihat orang-orang yang beruntung sebagai kelompok yang membuat mereka menderita, sehingga pada gilirannya mereka akan menunggu waktu untuk melampiaskannya.
    Tidakkah Kita menangkap pandangan sinis dari mata orang-orang yang frustasi, karena tidak mendapat pekerjaan, kehilangan usaha kecilnya akibat persaingan (Sikap Kompetisi) yang ganas, makin mencekiknya biaya hidup, susahnya untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya ??.
    Ach… Sudah jadi kebiasaan, Kita memang lebih senang mendramatisir dan membesar-besarkan masalah, lalu mengkritik, menemukan kambing hitam, bahkan seringkali tanpa dibarengi dengan sikap empati, tanpa tenggang rasa.
    Kita memang tak terbiasa mengkaji masalah dengan obyektif, tak terbiasa mengintrospeksi diri, apakah diri Kita sudah melakukan apa yang menjadi tanggung jawab Kita ?, apa yang telah Kita berikan/lakukan demi membantu menyelesaikan permasalahan di sekeliling Kita ?.
    Dalam konteks ini, lalu muncul pertanyaan, apa solusi yang harus dilakukan oleh Kelompok Masyarakat untuk penderita kemiskinan ?. Apakah kemiskinan bisa terkurangi kalau Kita mengamalkan konsep kapitalis seperti yang diungkapkan Adam Smith dalam bukunya
    The Wealth Of Nations ???
    “ Don’t try to do Good, Let Good Emerges as by Product of selfishness”,
    ( Tak perlu Kita berbuat baik, biarkan kebaikan muncul sebagai buah dari Sikap egois ), Entahlah !!!
    Sikap Koorporasi (bukan Kompetisi) secara vertikal, saling membantu, mungkin merupakan sikap yang arif dalam kondisi terpuruk seperti sekarang.
    Bukankah munculnya Taiwan sebagai negara industri baru di Asia, berangkat karena dikembangkannya sikap koorporasi ?, karena kebijakan Pemerintah yang mengharuskan proses manufacturing dilakukan sebagai kerjasama antara perusahaan besar dengan perusahaan-perusahaan kecil ?.
    Memang kerjasama diantara pihak-pihak yang tak seimbang akan ada kecenderungan menjadi bentuk eksploitasi pihak yang Kuat terhadap pihak yang lemah.
    Pandangan tersebut tak sepenuhnya keliru, bila kerjasama itu tidak dilandasi oleh pandangan bahwa kehadiran pihak yang lemah itu menguntungkan.
    Memperkuat yang Lemah pada gilirannya akan memperkuat pihak yang kuat juga, sementara sikap eksploitatif pada pihak yang lemah dalam jangka panjang akan melemahkan pelaku eksploitasi itu sendiri !!.
    Kini sudah saatnya bagi Kita untuk menggalakkan semangat solidaritas sosial, keterlambatan Kita sebagai pihak yang beruntung akan dianggap sebagai sikap pembiaran/acuh-tak-acuh yang mengundang resiko.
    Sikap yang tak menghiraukan terhadap penderitaan Mereka, apalagi merebut peluang Mereka untuk bisa hidup layak akan di-Cap sebagai perilaku kejahatan pihak yang kaya.
    Kita yang termasuk kelompok yang beruntung, memang boleh terus mengejar sukses dalam usaha, boleh saja memperkaya diri, tapi Kita juga harus memperhatikan persepsi sekeliling terhadap Kita.
    Sudah semestinya Kita berempati pada pihak yang lemah, sudah semestinya Kita tidak lagi berpikir bahwa kebaikkan Kita pada pihak yang lemah sebagai anugerah Kita pada pihak yang lemah.
    Anggap sajalah itu sebagai hutang sosial Kita kepada Mereka.
    Kesenjangan yang rawan akan sedikit teredam bila orang-orang yang miskin melihat orang-orang yang beruntung sebagai penolong, kelebihan rezeki pihak yang kaya dilihat oleh si miskin sebagai harapan yang akan bisa mengatasi masalah Mereka.
    Pada kehidupan Sosial Makro, sikap aktif pihak yang beruntung dengan mengulurkan tangan menolong pada pihak yang tak beruntung akan mengukuhkan integritas Sosial.
    Sebaliknya sikap acuh tak acuh atas penderitaan orang lain, apalagi dengan pola pikir “Blaming the victim”, pada gilirannya bisa menjadi bumerang. Seperti yang terungkap dalam Hadist Nabi Muhammad :“Serahkan Sedekahmu, sebelum datang suatu masa ketika Engkau berkeliling menawarkan sedekahMu, orang-orang miskin akan menolaknya seraya berkata “ Hari ini Kami tidak perlu bantuanMu, yang Kami perlukan DarahMu ”. “,
    Naaaach….
    Tapi Rakyat miskin mungkin memang ditakdirkan untuk memberikan pertolongan pada pihak yang lebih mampu, toh Nabi Muhammad sendiri pernah bersabda : “Kalian diberi rejeki dan ditolong oleh orang-orang kecil diantara Kalian”, atau mungkin karena si Miskin lebih mampu memahami apa yang diungkapkan oleh Nabi Muhammad : “ Khoirunnasyi Anfa’uhum Linnaasyi ”, (sebaik-baiknya manusia adalah yang memberikan manfaat kepada orang lain). Sehingga dalam kondisi yang terpurukpun Mereka tetap memberikan dukungan dan partisipasinya pada kelompok yang lebih mampu ????
    Entahlah Mereka (para calon) yang “dulu Pernah dan masih” di pesantren mungkin sekarang tak setuju dengan analisa ini, tapi harap maklum ungkapan ini keluar saat gelisah.
    Namun kalau Anda-Anda Yang Mulia juga gelisah memikirkan kondisi yang ada dan implikasi yang akan terjadi, mari Kita transformasikan kegelisahan yang ada secara positif menjadi bahan bakar untuk berbuat yang konstruktif demi redanya kegelisahan, paling tidak demi redanya kegelisahan Kita sendiri, Karena konon Surga Dunia ada pada Mereka yang hatinya tenang.

    Sabda Nabi Muhammad : “ Segala sesuatu ada kuncinya, dan kunci surga ialah mencintai orang-orang miskin”

    = Bondowoso Saat Gelisah hampir Pilkada, 2008 =

  2. 2 bondowosokita
    Senin, 31 Maret, 2008 pukul 10:28

    Taqdir dan usaha memiliki ruangnya sendiri-sendiri. Taqdir adalah pencapaian final dari suatu ‘ruang usaha’ yang diberikan Allah juga. Saya beriman kepada Taqdir Allah, tapi sungguh saya tidak berani mengemudikan mobil saya di jalan-jalan di Indonesia dengan menggunakan lajur kanan, karena aturan dan budaya kita adalah menggunakan lajur kiri. Apakah saya menjadi orang yang lemah iman?

    Nabi bersabda: “bekerjalah untuk akhiratmu seakan engkau mati esok pagi, dan bekerjalah untuk duniamu seakan engkau akan hidup untuk selamanya “. Apa artinya? ‘Kerja dunia’ dalam hadits konteks tersebut tentunya kerja ekonomi yang profit, bukan kerja bakti dan sekedar cari keringat. Dan ini tentu terkait dengan kemiskinan juga, bukankah Nabi pernah bersabda bahwa kefaqiran dapat mendatangkan kekufuran?

    Bahwa orang yang bekerja keras kemudian tetap miskin, itulah taqdirnya, dan ungkapan “miskin itu taqdir”, demikianlah pemaknaannya.

    Kalau bicara kekuasaan dan kemiskinan di Indonesia, satu hal yang jelas terjadi, TIDAK ADA PENGUASA YANG MAKIN MISKIN, WALAU PENDAPATAN RAKYATNYA TERUS MEROSOT TAJAM (kecuali penguasanya di’hisab’ dulu oleh KPK…)

  3. 3 Cobeh64
    Selasa, 1 April, 2008 pukul 1:07

    Selamat Datang Calon Perseorangan di Bondowoso !!!!!!!!

    Semua warga negara Indonesia adalah solusi bagi demokrasi.
    Mereka dapat berpartisipasi penuh dalam demokrasi, khususnya pemerintahan, sesuai dengan ketentuan Pasal 28D Ayat (3) UUD 1945.
    Itulah pesan utama Mahkamah Konstitusi (MK) saat mengabulkan uji materi UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Senin (23/7/07).
    Melalui jalur perseorangan, warga negara Indonesia kini juga dapat mencalonkan diri sebagai gubernur, wali kota, dan Bupati, selain melalui partai politik (parpol) dan gabungan parpol.
    Kutipan Putusan MK Nomor 5/PUU-V/2007, menyebutkan, “…adalah wajar apabila dibuka partisipasi dengan mekanisme lain di luar parpol untuk penyelenggaraan demokrasi, yaitu dengan membuka pencalonan secara per¬seorangan dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah”.

    Revitalisasi Parpol
    Parpol dan intelektual pendukungnya marah terhadap penggagas calon perseorangan, karena dianggap akan melemahkan parpol, yang lain menuduh MK tak paham demokrasi.
    Parpol ternyata masih lelap dalam kekuasaan politik tanpa publik.
    Padahal hari sudah siang, semua aktivitas parpol yang berpusat pada kepentingan parpol dan elite parpol divonis berakhir dan dikukuhkan MK.
    Kesadaran politik warga negara inilah yang menggugat fungsi distortif parpol. repolitisasi dan reideologisasi sedang berlangsung dalam realitas politik.
    Parpol tak bisa lagi diperjualbelikan, tak ada lagi uang mahar atau haram dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada).
    Parpol, elite parpol, pialang parpol, pembusuk demokrasi sudah lenyap. Jawabannya adalah revitalisasi parpol, itulah fungsi positif kompetisi baru antara parpol dan perseorangan.
    Selama 10 tahun parpol menyia-nyiakan kesempatan menjadi parpol modern yang efektif dan efisien melayani kesejahteraan rakyat.
    Apabila parpol menolak revitalisasi, akan lenyap disapu oleh gelombang pasang calon perseorangan.

    Partisipasi politik
    Partisipasi politik setiap warga negara adalah kunci demokrasi. Rakyat diakui hak dan kemampuannya terlibat dalam kehidupan publik dan pemerintahan, termasuk partisipasi untuk menentukan setiap rupiah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (participatory budgeting) di provinsi, kabupaten/kota. Partisipasi adalah wajah kekuasaan rakyat.

    TIDAK ADA PENGUASA YANG MAKIN MISKIN, WALAU PENDAPATAN RAKYATNYA TERUS MEROSOT TAJAM ????
    (Begitu tanggapan dari pengasuh BondowosoKita)
    Nah terkait dengan hal ini, kehadiran calon perseorangan bisa menjadi jalan keluarnya..
    Apabila perseorangan sekadar mencari kursi dan harta, lebih baik mengundurkan diri.
    Karena Rakyat akan menghukum perseorangan lebih keras daripada parpol.
    Kehadiran perseorangan adalah untuk kemakmuran, kesejahteraan, keadilan sosial, dan kebahagiaan rakyat, bukan untuk mengakumulasi menumpuk kekuasaan dan harta.
    Perjuangan politik gagasan perseorangan adalah untuk melawan politik Machiavellian parpol dan elite parpol, untuk mengukuhkan politik Aristotelian (Nicomachean Ethics) yang menyatakan bahwa :

    “Politics is the science of the good for man, to be happiness.”

  4. 4 bondowosokita
    Selasa, 1 April, 2008 pukul 15:04

    Mungkin ini eranya rakyat, setelah era eksekutif, kemudian berpindah ke legislatif, lalu kemarin dan hari ini menjadi era yudikatif. Ini saatnya rakyat menjadi nakhoda, walau mungkin pada masa awal sebagian mereka bertindak dengan inspirasi para ‘pendahulu’ mereka ( he he..). Tapi sebagai awal, ini adalah produk hukum yang positif…Merdeka…!

  5. 5 Ghost
    Sabtu, 19 April, 2008 pukul 17:42

    PILKADA adalah proses demokrasi, yang mestinya dimenangkan oleh rakyat bukan oleh para calon.
    Tak bisa dipungkiri bahwa hanya pada tahap inilah suara rakyat dihargai,
    dirayu-rayu, dikejar-kejar atau bahkan diperdaya agar menuruti keinginan calon

    Setelah itu bagaimana ?

    Lalu apa yang terjadi Setelah salah satu calon menjadi Bupati ?

    Rakyat tak lagi berarti apa-apa

    Rakyat kembali terpuruk, termarjinalkan, sang Bupati sibuk mensejahterakan diri dan kroninya…
    Rakyat kembali tak ubahnya pengemis yang mengharap sang BUPATI melakukan kewajiban (bukan kebaikan,karena itu sudah kewajiban) semestinya..

    Jangan salahkan kalau pola itu membuat rakyat ingin sekali memperkosa para calon..

    Ini Budaya POLTIK Jahat yang sedang mengepung Kita..
    Ekses dari Demokrasi yang salah..


Tinggalkan Balasan




PEMILU 2009

Sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dari sitem ketata negaraan kita adalah adanya lembaga legislatif atau DPR/DPRD. Sejak lama keberadaan para anggotanya menjadi sorotan publik, karena terkesan bergelimang harta namun miskin kinerja. Sebenarnya, PEMILU menjadi ajang masyarakat untuk menghakimi mereka: PILIH YANG WARAS atau PILIH YANG MAU BAYAR? Ini saatnya kita menentukan pilihan...

 

Maret 2008
S S R K J S M
    Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Blog Stats

  • 3,800 hits