Ada wacana mengemuka menjelang penetapan pasangan calon kandidat pada PILKADA Bondowoso, yaitu pentingnya mengusung putra daerah sebagai calon. Wacana ini sebenarnya sempat muncul pada acara seminar PILKADA PC. GP. ANSOR di Hotel Palm tahun 2007 yang lalu. Adalah HM. Hasyim Husnan yang saat itu menjabat sebagai ketua DPC PKB Bondowoso yang melontarkannya. Dalam uraian kertas kerjanya, dia menekankan definisi putra daerah dengan ‘intensitas relasi kultural’. Dia menjelaskan, relasi budaya seseorang yang intens dengan masyarakat mutlak harus dimiliki seorang calon pemimpin. Tidak penting aliran darahnya, juga domisilinya, karena dalam era sekarang, sebuah intensitas tidak cukup diukur secara fisis, artinya seseorang yang 24 jam per-hari ada di Bondowoso bisa menjelma menjadi sosok ‘eksklusif dan tidak lazim’ bagi masyarakat Bondowoso. Begitupun sebaliknya, seseorang yang jauh atau jarang ada di Bondowoso bisa ’sangat Bondowoso’ dalam cara pandang sosio budaya.
Per-definisi, sebenarnya sangat sulit merumuskan siapa yang pantas disebut putra daerah itu, apalagi jika dikaitkan dengan satu kriteria wajib saat menjelang pilkada seperti sekarang ini. Muatan politisnya pasti, namun setidaknya ada muatan akademis yang logis saat menjadikan persoalan putra daerah sebagai issu tunggal.
Tanpa menafikan kemampuan manusia, kita bisa mencomot setiap orang di pasar untuk dapat dijadikan bupati atau wakil bupati karena ia lahir dan besar di Bondowoso. Di sisi lain, ada kebutuhan dan keinginan masyarakat yang nantinya akan menjadi kewajiban kepala daerah, tentunya dia haruslah sosok yang mumpuni dan ‘tidak aneh’ bagi masyarakat Bondowoso.
Samsul Hadi Merdeka (ketua Dewan Syuro PKB) dan Irwan Bakhtiar (ketua DPC PDIP) yang sangat getol mengusungnya. Anehnya, Samsul yang ketua dewan syuro sekaligus ketua tim rekrutmen PKB [Majelis Kebangkitan(?)] tidak memasukkannya sebagai kriteria dan justru berteriak di media, tepatnya di radar Jember. Itupun tanpa disertai argumen memadai.
Nampaknya, silat politik juga sangat perlu diikuti dengan pencerdasan politik, agar dapat menjadi pendidikan politik yang mencerahkan bagi masyarakat Bondowoso..Bagaimana menurut anda?
Beberapa hal menarik yang dapat didiskusikan adalah :
1. Adakah putra daerah yang memang layak dan mampu memimpin daerah?
2. Apakah benar bahwa calon yang memang putra daerah adalah pilihan terbaik dan sejalan dengan keinginan masyarakat?
3. Apakah calon itu memang dipandang amanah untuk dapt merubah Bondowoso menuju lebih baik?
Bagi saya, yang terbaik tetaplah baik, dan yang buruk tetaplah buruk, mau putra daerah atau bukan saya tak perduli. Putra daerah tapi jahat siapa yang mau?
Terminologi Putra Daerah harus diperjelas,disepakati kriteria dan peruntukkannya……
Sebab kalu tidak malah akan menimbulkan debat kusir (siapa Kusirnya ???) yang malah menyesatkan (Mislead)
Yang jelas Pilkada bukanlah Kontes asli-2an Etnis (Local Genuine).
Pilkada adalah UPAYA RAKYAt memilih pemimpin yang bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik.
Buat apa Putra Daerah Kalau Tak Capable ?
Buat apa Putra Daerah kalau perilakunya malah makin me-marginalkan Rakyat ?
Putra Daerah lebih mengenal daerahnya, itu Jelas !!!
Karena Putra Daerah lebih Lama bergaul dengan komunitas lokal.
Tapi apakah kalau lebih lama bergaul dan saling mengenal satu sama lain lalu secara otomatis akan membawa kebaikan ?????
Apakah itu secara otomatis bisa diharapkan akan lebih menghargai rakyat yang dipimpinnya ?????????????????????????????????????????????????????
Tanda Tanya ini mestinya ditulis lebih banyak lagi sebagai ungkapan keraguan banyak orang.
Berikut cerita anekdot dalam pergaulan rumah tangga,
yang semakin lama bergaul,
semakin kenal malah selllllaaaaak…
Usia Perkawinan 6 minggu, 6 bulan dan 6 tahun
Sebelum Bobo:
6 minggu: selamat bobo sayang, mimpi indah ya, mmmuach.
6 bulan: tolong matiin lampunya, silau nih.
6 tahun : Kesana-an doong… kamu tidur dempet2an kayak mikrolet gini sih?!
Pakai Toilet:
6 minggu: ngga apa-apa, kamu duluan deh, aku ngga buru2 koq.
6 bulan: masih lama ngga nih?
6 tahun: brug! brug! brug! (suara pintu digedor), kalo mau tapa di gunung kawi sono!
Ngajarin Nyetir:
6 minggu: hati-hati say, injek kopling dulu baru masukin perseneling ya
6 bulan: pelan-pelan dong lepas koplingnya.
6 tahun: pantesan sering ke bengkel, masukin persenelingnya aja kayak gini!
Balesin SMS:
6 minggu: iya sayang, bentar lagi nyampe rumah koq, aku beli martabak kesukaanmu dulu ya
6 bulan: masih di jln nih
6 tahun: ok.
Proses Kencan:
6 minggu: I love U, I love U, I love U.
6 bulan: Of course I love U.
6 tahun : Ya iyalah!! kalau aku tidak cinta kamu, ngapain nikah sama kamu??
Balik dari Kantor :
6 minggu: Honey, aku pulang…
6 bulan : I’m BACK!!
6 tahun: Si mbok masak apa hari ini??
Hadiah (ulang tahun):
6 minggu : Sayangku, kuharap kau menyukai cincin yang kubeli
6 bulan : Aku membeli lukisan, nampaknya cocok dengan suasana ruang tengah
6 tahun : Nih duitnya, loe beli sendiri deh yang loe mau
Telepon:
6 minggu: Hey Sayang, ada yang pengen bicara ama kamu di telpon
6 bulan : Eh…ini buat kamu nih…
6 tahun : WOOIII TELPON BUNYI TUUUHHH….ANGKAT DUOOONG!!!
Masakan:
6 minggu: Wah, tak kusangka rasa makanan ini begitu lezaattt…! !!
6 bulan: Kita makan apa malam ini??
6 tahun: HAH? MAKANAN INI LAGI?
Memaafkan:
6 minggu: Udah gak apa-apa sayang, nanti kita beli lagi ya
6 bulan: Hati-hati! Nanti jatuh tuh.
6 tahun: KAMU GAK NGERTI2 YA DAH BERIBU2 KALI AKU BILANGIN
Baju baru:
6 minggu: Duhai kasihku, kamu seperti bidadari dengan pakaian itu
6 bulan: Lho, kamu beli baju baru lagi?
6 tahun: BELI BAJU ITU HABIS BERAPA??
Rencana liburan:
6 minggu: Gimana kalau kita jalan-jalan ke Bali atau ke tempat yg kamu mau Say?
6 bulan: Ke Bali naik bis aja ya gak usah pakai pesawat…
6 tahun: JALAN-JALAN? DIRUMAH AJA KENAPA SEH? NGABISIN UANG AJA!
TV:
6 minggu: Sayang, apa yg pengen kita tonton malam ini ?
6 bulan : Sebentar ya, filmnya bagus banget nih.
6 tahun: JANGAN DIGANTI-GANTI DONG CHANNELNYA AH! GAK BISA LIAT ORANG SENENG DIKIT APA ?!
Haaaaaaah
“Dunia adalah komedi bagi mereka yang melakukannya, Tapi tragedi bagi mereka yang merasakannya.” (Horace Walpole)
Keperdulian seringkali merupakan urusan komitmen, dan komitmen itu bukanlah bahasa manis belaka. Ada konsistensi perilaku dari individu yang bisa menjadi indikator apakah seseorang memiliki komitmen yang baik atau nggak, pun bagi calon kepala daerah…
Sebenannya pak, yang fatal itu sudah bukan putra daerah, tak taoh madureh, tak pintar, tak punya prestasi, tukang “narik karcis”, sombong, sudah sok kepala/wakil kepala daerah, ngandalkan orang lain, pangkat melesat cepat….duuuu…
Tidak ada kesempurnaan dalam diri manusia, yang perlu kita hati2 memilih adalah seberapa besarkah kepeduliannya pada rakyat yang dipimpinnya. Jangan terkungkung pada jargon putra daerah. Bukan putra daerah asal mampu membawa Kota TAPE tercinta jd lebih baik dari sebelumnnya itu lebih baik daripada PUTRA DAERAH tapi hanya mikirin KRONI dan KELUARGANYA sendiri…. Ampuuuunnn dech…. Capeeeeekkk dech… menanggapi tulisan KACONG BENDEBESAH, sabar mas…. ingat aja kata2 embah2 kita dulu… SEGALA SESUATU YANG BESAR DENGAN TIBA2 AKAN MUDAH HANCUR… Ingat.. tidak pernah ada bayi yang lahir langsung bisa berlari,semua berproses, semoga RAKYAT BONDOWOSO bisa merasakan kehidupan yang lebih baik dari masa2 pemimpin sebelumnya… AMIIIIIN…. AMIIIIIN…. AMIIIIN…
AMIIIN…AMIIIIN…AMIIIN!
Mohon Wacana tentang Putera Daerah dicermati lagi, mbok kita jangan picik, hendaknya kita berfikir tentang ke INDONESIA-an, Bondowoso itu bagian dari Indonesia, sebuah Kabupaten kecil, yang tandus, gersang (baca=gak seger tapi Merangsang untuk jadi bupati di sini), SIAPAPUN DIA, Tao medureh apa kagak, ISLAM apa Kristen, Hindu, Konghucu sekalipun dari ACEH sampai Papua BERHAK jadi bupati di BONDOWOSO, yang penting nanti kalo dah jadi bupati jangan lupa, enak-2 an dilayai, tapi mesti berfikir dan bekerja keras buat kemakmuran rakyat bondowoso.
Menanggapi Tulisan KACONG BENDEBESAH, mohon kita doakan aj kalo memang bener ada orang seperti kriteria yang sampean tulis diatas, diberi petunjuk biar BELIAU sadar, agar tidak sombong, tawadlu’, SOPAN, tambah Pinter dan yang penting BISA berbuat yang terbaik buat BONDOWOSO. Amien…
( Maaf. Lupa,memperkenalkan diri : kulo sanes tiang bondowoso, mas)
Setuju Mas Bambang, mumpung masih hangat-hangatnya Hari Kebangkitan Nasional, kita perlu menerawang kembali, bahwa Harkitnas adalah tonggak berakhirnya semangat kedaerahan dan awal lahirnya nasionalisme. Memang terasa lucu jika wacana ini muncul kembali, kok terlihat seperti pada masa-masa jong java, jong sumatera, jong celebes, dan sejenisnya
Matur numun kagem BONDOWOSOKITa,semoga masyarakat kab. bondowoso mendapatkan ke-maslahatan dengan Pilkada yang akan datang, siapapun yang terpilih (Pak Misnan,Pak Amin,Mas Irwan,Ato pun Pak Kyai Salwa) bila terpilih nanti akan berbuat yang terbaik buat masyarakat bondowoso,Beliau yang terpilih semoga benar-2 mikir program untuk rakyat, jangan cuma mikir Team Suksesnya saja ya PAK!! MOHON Maaf, biasanya memang begitu terpilih ada kecenderungan Balas Jasa buat team sukses. Wajar Memang kalo balas saja, dan saya pribadi anggap SAH-SAH saja sih, tapi yang penting jangan terlalu aj.keterlaluan kan gak baik to? Trims
Matur nuwun juga Mas Bambang, atas pengamatan, harapan dan kekhawatirannya. Logika balas jasa sebenarnya kadang lebih menghantui tim sukses daripada yang disukseskan. Kecuali ada calon yang “kalap” dan tidak memiliki sesuatu yang lain selain janji-janji. Kalau ada yang seperti ini, kok saya pribadi tidak mau gabung, he he…pasti bohong tuh Mas Bambang…!
Siapapun calonnya… Putera daerah atau ga’ yang penting.. mampu memakmurkan Bondowoso…
silahkan bersaing untuk memperebutkan kursi Bupati Bondowoso…
tapi yang jelas semua calon Bupati Bondowoso adalah para Pemburu Dolar….
BUKTINYA!!!! mereka berani membayar mahal rekomendasi partai (REKOM=SAHAM), menghambur-hamburkan uang, mau memberi kalau ada maunya… (SELF PROMOTION)
Kacian ya… Bondowoso, dari kota tape mau dirubah kota kembang…
terus kalau Bupati yang baru mau jadi kota apalagi?????????????GAK USAH NGERUBAH PREDIKAT YANG PENTING PENDIDIKAN DI BONDOWOSO BISA MURAH, BERKUALITAS DAN MERATA…..
Kadang sifat romantisme seseorang menumbuhkan keinginan dalam dirinya untuk membuat semacam “prasasti” agar bisa dikenang. Sayangnya, keinginan itu diterjemahkan dalam bentuk sesuatu yang kurang bermakna dan cenderung bersifat etalatif, seperti julukan kota dari kota tape menjadi kota kembang. BondowosoKita setuju bahwa hal tersebut tidaklah urgen, toh perubahan predikat tersebut belum mampu merubah apa-apa dari sisi rakyat…
bagi saya siapapun pemimpinnya ga masalah….yang penting bisa memakmurkan bondowoso dan punya hubungan dengan birokrasi dengan baik?artinya pengalaman buat cari duit di luar??jangan jadikan bondowoso sebagai kelinci percobaan … dan menumpuk harta??? banyak yang harus di benahi… juga buat tim sukses calon bupati…. kalah menang itu biasa dalam permainan ….
Ada wacana PUTRA DAERAH, AMANAH, CERDAS dan profesional yang ketiganya sulit digabung, ada putra daerah tidak amanah, ada putra daerah tidak profesinal, ada profesional bukan putra daerah, ada profesional tidak amanah, ada amanah tidak profesional, ada amanah bukan putra daerah dst…dst…
Definisi “putra daerah” ini sarat kepentingan politis. Saya sendiri pesimis dengan calon-calon yg ada sekarang. Apakah ia “putra daerah” atau bukan ?
Apakah sudah ada komitmen moral untuk membangun Bondowoso yang ditandatangani diatas meterai dan bersedia mundur. Toh kalopun ada komitmen itu, yah… apalah artinya kertas.
Track record bung….Siapa yang memiliki kredibilitas dan integritas dari para calon tsb. TIDAK ADA !
Sunnatullahnya, tiada manusia yang suci, kecuali mungkin bayi. Dalam satu qoidah Fiqh-nya imam Syafi’i, suatu pemerintahan/kepemimpinan yang dholim adalah lebih baik daripada kekosongan pemerintahan/kepemimpinan. Yang perlu dirumuskan barangkali adalah tingkat prioritas kebutuhan, dan setiap saat atau momentum, memiliki prioritas dan pilihannya sendiri-sendiri. Dan untuk kita, saat proses telah berjalan serta pilihan sudah di depan mata, maka pertanyaan yang layak dikedepankan adalah : Apa yang harus kita lakukan? toh mengeluh tidaklah pernah menyelesaikan masalah. Apriori juga hanya akan menambah masalah…
Lah kok beberapa dari kita masih berkutat pada persoalan primordial kedaerahan yaa ?
PilBup bukanlah kontes,mencari Local Genuine…khaan
Tapi mencari sosok yang capable untuk memanage potensi Kita…
Adakah yang terbaik ?
Sayapun berpendapat tidak ada yang terbaik….
Yang Kita dapatkan hanyalah yang secara comparative, secara rasional (bukan emosional)…
Better than……
Ukuran mana yang lebih baikpun diantara kita bisa beda,
dari orang yang satu dengan orang yang lain..
dari kelompok yang satu dengan kelompok yang lain..
Tapi tak usahlah karena perbedaan itu kemudian kita menambah kekalutan hidup.
Karena kenyataannya Orang-orang yang bahagia tidak selalu memiliki hal-hal yang terbaik,,,
Tapi mereka hanya berusaha menjadikan apa-apa yang dimiliki menjadi yang terbaik.
Begitu juga dengan Kita…
Mungkin Calon yang terpilih bukanlah yang terbaik..
Tapi dengan sinergitas diantara Kita, maka Kita bisa mengupayakan apa yang ada ini menjadi yang terbaik.
UNTUK RAKYAT !
Haaaaah…
Jabatan Bupati memang kekuasaan yang akan memberi kemewahan dan kebanggaan sehingga membius semua orang untuk mengejar dan meraihnya..
membius sang calon dan para pendukungnya…
Lalu bagaimana dengan nasib sang rakyat…?
Kekuasaan itu datangnya dari rakyat..
Dan kebanggaan itu akan berubah menjadi kecemasan apabila kondisi rakyat menjadi makin buruk..
Gerbongmaut menulis: “Definisi “putra daerah” ini sarat kepentingan politis. Saya sendiri pesimis dengan calon-calon yg ada sekarang. Apakah ia “putra daerah” atau bukan ?
Apakah sudah ada komitmen moral untuk membangun Bondowoso yang ditandatangani diatas meterai dan bersedia mundur. Toh kalopun ada komitmen itu, yah… apalah artinya kertas.
Track record bung….Siapa yang memiliki kredibilitas dan integritas dari para calon tsb. TIDAK ADA !”
Budaya pemikiran seperti ini yg membuat bondowoso tidak pernah maju. Jangan kita terkungkung dengan INTEGRITAS, KREDIBILITAS, SEMPURNA, BERMORAL, dsb. Wajar sebagai manusia kita ingin yang TERBAIK… Mencari manusia TERBAIK??? Cari aja di cerita wayang.
Kalau kita hanya berputar dilingkaran TERBAIK kita tidak akan pernah maju…
yang perlu kita lakukan sekarang adalah berusaha menjadikan segala sesuatu menjadi LEBIH BAIK, tinggalkan kebiasaan su’udzon..
Mencari yg TERBAIK hanya jalan ditempat, berusaha menjadikan sesuatu LEBIH BAIK akan membuat seseorang berusaha melakukan sesuatu agar sesuatu menjadi lebih baik.
Bagi saya lebih baik punya pemimpin Terbaik dari yang terjelek, daripada tidak punya pemimpin.
Mari berusaha memajukan Bondowoso dengan menjadikan Bondowoso lebih baik dengan berhenti saling menyalahkan…
Kesempurnaan hanyalah milik ALLAH…
Dalam satu penggalan puisinya, Chairil Anwar menulis: “yang bukan penyair tidak ambil bagian!”> Kalimat itu mungkin sebuah kalimat pertahanan diri dari kemungkinan apresiasi dan pemaknaan yang salah terhadap puisinya, bisa pula merupakan satu bentuk keangkuhan profesi, bahwa yang bukan penyair tidak akan pernah mengerti puisi.
Dalam kenyataan hidup, suatu cara pandang kadang hanya dapat dimengerti dari sudut yang sama, namun saat kita bicara dalam alam demokrasi dan dalam konteks persoalan bersama, maka perbedaan pandangan adalah satu keniscayaan, dan ragam pendapat tidak dapat dihindarkan. Namun seperti sabda Nabi : “perbedaan antar umatku adalah rahmat”, ada kekayaan ilmu dibalik perbedaan, mari kita nikmati dan senantiasa saling belajar…juga memahmi