TAHUN AJARAN BARU DI DEPAN MATA
Tahun ajaran baru tahun 2008-2009 segera tiba. Di Bondowoso, para orang tua disibukkan dengan persiapan ganda, selain sibuk mempersiapkan ujian putra-putrinya, mereka juga disibukkan dengan persiapan masuk sekolah pada jenjang yang lebih tinggi.
Kesibukan yang bercampur kekalutan, karena semuanya tidak ada lagi yang gratis. Bahkan hampir semua komponen biaya pendidikan semakin mahal, di tengah ironi kondisi ekonomi masyarakat yang semakin lemah. Sedangkan sekolah seakan berebut menjlentrehkan komponen kebutuhan dengan ragam judul yang intinya bagi wali murid tetap satu : MAHAL!
Dari pengalaman tahun-tahun kemarin, adanya bantuan Biaya Operasional Pendidikan (BOS) ternyata tidak mampu menurunkan nilai uang sekolah yang arus dubayar para wali murid, terutama di sekolah-sekolah “maju” di daerah perkotaan. Banyak argumen yang disampaikan pihak sekolah agar semuanya menjadi rasional. Misalnya pada waktu itu ada komponen uang pramuka, yang kegiatannya diikuti segelintir siswa tapi dibayar oleh seluruh siswa. Belum lagi yang tidak dapat dihindari seperti uang buku, yang harganya tidak lebih murah dari toko buku.
Meningkatnya popularitas sekolah pasti diikuti dengan meningkatnya beban wali murid. Logika ini mirip atau persis dengan logika bisnis, semakin banyak permintaan dan barang yang tersedia sedikit, maka harga menjadi mahal. Contoh aktual adalah Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (SBI). Uang pangkal yang harus dibayarkan, minimal 1.5 juta. Jika calon siswanya adalah anak ber IQ tinggi tapi hanya putra pegawai rendahan atau tukang becak, maka peluangnya menjadi NOL untuk mendapatkan layanan pendidikan yang sesuai. Padahal dana SBI mengalir dari APBN dan APBD, logikanya sekolah SBI hanya menjaring calon siswanya dan memberikan beban finansial seringan-ringannya pada para wali murid calon siswa istimewa itu. Kenyatannya, potensi SDM yang luar biasa tidak memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh akses terhadap SBI hanya karena faktor ekonomi, sebuah ironi memang, bahwa filosofi pendirian SBI yang didasarkan pada pengembangan sumber daya manusia akhirnya menjadi wilayah elit yang tidak terjangkau golongan “elit” (ekonomi sulit) lainnya.
Bagi rakyat, wacana peningkatan prosentase anggaran pendidikan tetap tidak banyak bermakna, sebab di balik itu –terutama pada tahun ajaran baru– prosentase terbesar yang menderita adalah calon siswa dan walinya.
Harusnya daerah memiliki sekolah unggulannya sendiri, yang mewadahi penggodokan potensi SDM di Bondowoso, terutama dari kalangan tidak mampu. Jika ada yang mampu secara ekonomi dan tertarik masuk di sekolah tersebut, bisa saja sekolah menerapkan uang sekolah yang tinggi, jadi sekolah ini merupakan kebalikan dari konsep penerimaan siswa baru-nya SBI, dimana konsep pengelolaanya sudah sangat didasari orientasi profit.
Lalu bagaimana baiknya? bertanyalah pada rumput yang bergoyang….
BetuL banget. AKu walaupun yang belum punya anak aza merasakan uang sekolah itu sekarang semakin MAHAL.Secara aku punya 1 adik yang sekarang naik kelas 2 SMP, walaupun ortu ga minta bantuan uang sekolah ke aku yang baru 1tahun kerja ini, tapi aku mau bantu mereka. Membiayai adik sedikit-sedikit lah. Dan ternyata MAHAL…. Capeeee deH
oia, saLam kenaL juga yah dari aku.
tHAnx udah pernah mampir ke blog aku,,
kami momonitas blogges bondowoso (GEM) mohon dukungan akar bondowoso 2009 menuju kota blog dapat terwujud…tolong link kami di add dan diperbanyak…terima kasih