19
Jul
08

Kolom

Idealisme

Syafrudin Prawiranegara, Sang Mantan Presiden Sementara republik ini, adalah Gubernur Bank Indonesia saat memilih jalan makar terhadap pemerintahan yang sah. Dia adalah salah satu orang pandai dan terpandang, bahkan karena kecerdasannya dianggap satu diantara sedikit orang yang layak untuk menduduki kursi RI-1.

Dia yang mungkin karena kecerdasannya pula mampu menangkap ketidak beresan pemerintahan kala itu, dan karena keberaniannya dia melontarkan stigma “stabilitas semu” pada kondisi negara dan masyarakat yang di permukaan memang nampak mulai tertib.

Dia adalah seorang idealis, jika kita memaknakan kata ini sebagai wakil dari orang-orang yang memilih dan memiliki jalan pikiran yang jelas dan konkrit untuk diperjuangkan.

Dia adalah seorang pejuang sejati dari pikiran-pikirannya, seperti kata Sawung Jabo dalam lagu HIO, “…dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata…pelaksanaan kata-kata..!” (ini bukan meniru iklan “hidup adalah perbuatan”-nya salah satu ketua parpol yang sat ini bisa kita temui di berbagai sudut negeri ini).

Resiko pilihan hidupnya adalah meninggalkan kemapanan ekonomi dan berbalik menjadi musuh pemerintah.

Pilihan seseorang terhadap sesuatu kadang sulit dimengerti, tapi dia puas, dengan itu dia merasa hidupnya lebih bermakna. Dan dalam kesejatian makna hidup, adakah yang lebih tinggi dari perasaan kebermaknaan diri?

Bagi sebagian orang, mencari makna hidup hanya bisa dengan suatu totalitas terhadap apapun. Kalau Chairil Anwar sang penyair malah hanya memberi satu garis tipis antara kebermaknaan diri dalam hidup dan kematian, “ sekali berarti, sudah itu mati…!”

Perjuangan, sebagaimana kehidupan, adalah pilihan yang di dalamnya terdapat cara dan jalan, tentu juga dengan segenap konsekwensinya. Dan banyak kalangan yang menyayangkan, bahwa beliau bukanlah seorang yang ingin memenangkan idenya dengan cara damai.

Pilihan seperti ini, dalam kacamata orang lain bisa disebut kelebihan, bisa pula sebuah kekurangan, walau sebenarnya batas antara keduanya sungguh sangat tipis…

(terinspirasi dari resensi buku “Yang Datang Telanjang. Surat-surat Ajip Rosidi dari Jepang 1980-2002, Oleh Martin Aleida, KOMPAS 2 Juni 2008-hal36)


0 Tanggapan ke “Kolom”



  1. Belum Ada Tanggapan

Tinggalkan Balasan




PEMILU 2009

Sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dari sitem ketata negaraan kita adalah adanya lembaga legislatif atau DPR/DPRD. Sejak lama keberadaan para anggotanya menjadi sorotan publik, karena terkesan bergelimang harta namun miskin kinerja. Sebenarnya, PEMILU menjadi ajang masyarakat untuk menghakimi mereka: PILIH YANG WARAS atau PILIH YANG MAU BAYAR? Ini saatnya kita menentukan pilihan...

Tulisan Teratas

 

Juli 2008
S S R K J S M
« Mei    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Blog Stats

  • 3,930 hits