Anda mungkin pelajar atau mahasiswa, dan punya unek-unek tentang berbagai hal mengenai Bondowoso, silahkan tulis disini
Blog Lain Dari Bondowoso
Catatan Pinggiran
Peralatan
PILKADA
PEMILU 2009
Sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dari sitem ketata negaraan kita adalah adanya lembaga legislatif atau DPR/DPRD.
Sejak lama keberadaan para anggotanya menjadi sorotan publik, karena terkesan bergelimang harta namun miskin kinerja.
Sebenarnya, PEMILU menjadi ajang masyarakat untuk menghakimi mereka: PILIH YANG WARAS atau PILIH YANG MAU BAYAR?
Ini saatnya kita menentukan pilihan...
Tulisan Terakhir
Komentar Terakhir
| akhmad setiadi di BERITA BONDOWOSO | |
| bondowosokita di BERITA BONDOWOSO | |
| BONDOWOSO JANGAN MIS… di BERITA BONDOWOSO | |
| triwahyu di BERITA BONDOWOSO | |
| jobenk di BERITA BONDOWOSO |
Tulisan Teratas
| S | S | R | K | J | S | M |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Jul | ||||||
| 1 | ||||||
| 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
| 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
| 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
| 30 | ||||||
Blog Stats
- 3,800 hits
Kondisi seseorang, baik lingkungan ataupun kejiwaan sangatlah mempengaruhi cara pandangnya terhadap segala sesuatu. Begitupun para muda, tentu punya pendapat terhadap kondisi pemerintahan kabupaten Bondowoso. Mungkin anda punya unek-unek yang bisa menjadi solusi berbagai persoalan Bondowoso kita tercinta, silahkan tulis disini…!
BUKAN RAKYAT YANG GELISAH ???
Mengapa rakyat selalu diabaikan/dimarjinalkan ?
Apakah ini terjadi tanpa sebab ?
Apakah ini terjadi karena para pejabat pemerintah berpikir
“Ah yang rewel khan kelompok itu-itu saja, rakyat kebanyakan toh tidak segelisah kelompok itu”
Benarkah begitu ?
Rakyat kita tidak gelisah ?
Bila kita mau memperhatikan, sebenarnya rakyat sangatlah gelisah, tidak puas pada keadaan.
Mereka juga tidak suka pada keadaan yang ada.
Hanya saja mereka sangat tidak Artikulatif ,
Tidak terucapkan perasaan-perasaannya
Dan tidak mempunyai kemampuan linguistik untuk mengutarakannya.
Janganlah kita berpikir hitam putih,
bahwa karena rakyat tampak diam lalu rakyat dianggap tak gelisah.
Anggapan semacam itu sungguh menyakitkan
Diamnya si bisu bukan karena tak gelisah
Tapi bisa jadi karena ketidakmampuannya untuk menyampaikan kegelisahan
Kita yang merasa waras harusnya berempati..
Bukan malah melepas tanggung jawab
Dengan mencaci pihak yang memahami kegelisahan si lemah
Pembacaan Rekom PKB diawali suasana yang (dibuat) hangat..
ricuh diawal penuh teriakan
banyak pihak cemas,takut kena imbas…
Rekom urung dibaca..
Lokasi dipindah dari Gedung Palm ke Gedung Milik Rakyat (Bukan Milik PKB)
Rekom dibaca berbunyi Amin-Haris
Tak meng-Kagetkan,
tapi adegan yang berakhir dengan ketawa ketiwi para pelakunya..
membuat beberapa temen bingung akan perubahan ekspresi yang ada..
Sayapun ditanya oleh temen-temen journalist untuk menjawab kebingungan mereka.
Saya tak bisa lugas menjawabnya (kecuali pada temen sendiri,saya buka alam gaib dibalik kejadian itu)
Pada temen-temen kebanyakan Saya biarkan misteri ini terbungkam seperti dalam Kotak Pandora.
Kotak Pandora?
Dalam mitologi Yunani, PANDORA adalah wanita pertama di Bumi yang diciptakan Hephaestus atas permintaan Zeus. Zeus ingin menetralkan berkah api yang dicuri oleh Prometheus dan diberikan pada manusia.
Maka, dikirimkannya Pandora untuk menjadi istri Epimetheus, saudara Prometheus.
Penciptaan Pandora juga dipenuhi berkah dari dewa-dewi lain.
Aphrodite menganugerahinya kecantikan, keanggunan dan gairah.
Hermes memberinya kecerdikan, keberanian dan kemampuan untuk membujuk.
Demeter menunjukkannya cara memelihara taman.
Athena mengajarinya ketangkasan dan memberi roh pada Pandora.
Apollo mengajarinya bernyanyi dengan merdu dan memainkan alat musik petik.
Poseidon memberinya kalung mutiara dan kesaktian agar tak pernah tenggelam.
Horae menambah daya tarik Pandora dengan menghiasi rambutnya dengan rangkaian bunga dan tumbuhan lain untuk membangkitkan ketertarikan para pria padanya.
Hera memberinya rasa ingin tahu.
Zeus membuatnya nekat, nakal dan suka bermalas-malasan.
Selain semua yang diperolehnya, Zeus memberi Pandora sebuah kotak yang tidak boleh dia buka (ada versi yang menyebutkan kotak itu milik Epimetheus).
Tapi Rasa ingin tahu akhirnya mengalahkan Pandora, dan dia membuka kotak itu.
Keluarlah beraneka penderitaan, kesengsaraan dan kemalangan yang menyakiti tubuh dan menyiksa pikiran manusia.
Dalam ketakutan, Pandora berusaha menutup kembali kotak itu.
Di antara berbagai macam kejahatan yang keluar itulah terdapat SANG HARAPAN, satu-satunya kebaikan dari kotak itu.
Pada akhirnya, sang Harapan jugalah yang bisa melindungi umat manusia dari kemalangan.
Kadang kita pun menemukan kotak Pandora.
Hal-hal yang sangat menarik dan menantang, namun terasa akan lebih baik jika dibiarkan tidak terungkap dan tetap menjadi misteri.
Sebab tidak semua yang terungkap apa adanya akan mendatangkan kebaikan.
Sebab apa yang menurut kita baik, belum tentu baik bagi orang lain.
Semuanya harus tetap tersimpan ‘di dalam kotak’.
Dan bila kita tidak mendapatkan sang Harapan karena tidak membuka kotak itu, mungkin dia memang harus dicari di tempat lain.
Apakah itu berarti saya pengecut?
Ah, saya lebih suka menganggap bahwa seperti halnya pemahaman, ketidaktahuan juga dibutuhkan, dan fungsinya antara lain secara perlahan-lahan namun pasti akan menggiring manusia kembali kepada kodratnya.
Ini tidak ada kaitannya dengan berani atau tidak. Dan saya memang tidak ingin seperti Pandora.
Calon Yang Cakap
(Titip Salam untuk I.T)
Sebenarnya aku bukanlah orang yang cakap.
Orang lainpun tahu bahwa aku tidak cakap.
Cuma banyak orang yang mengenal diriku suka bercakap,
pokoknya hobbiku cakap-cakap.
Aku dianggap aneh kalau sudah tidak mau lagi becakap.
Aku dengar banyak hal dari orang-orang yang sering bercakap,
ketika mereka ngumpul lagi bercakap-cakap.
Akupun dengar apa yang mereka cakapkan.
Ketika si tukang cakap bercakap, datang beberapa orang lagi tukang cakap.
semua tukang cakap berkumpul bercakap-cakap.
“Pada zaman dahulu kala, ada seorang tukang cakap; Abu Nawas namanya.
Dari mulai terbit matahari sampai terbenamnya, kerja Abu Nawas adalah bercakap-cakap, karena dia hobbi bercakap”,
Sangkin seringnya Abu Nawas bercakap, lama kelamaan semakin banyak pula bohongnya.
Kenapa Abu Nawas berbohong ?
Jawabnya, dia sudah kehabisan bahan untuk bercakap.
Tahukan orang Abu Nawas berbohong ? Tentu tidak.
Cuma Abu Nawas sendiri yang tahu kalau dirinya berbohong. Orang lain tidak tahu.
Sangkin hebatnya cakap bohong Abu Nawas, orang sekelas Sultan Harun Ar Rasyid-pun habis dibohong-bohonginya.
(Kalau rakyat sih dah hampir tiap hari dibohonginya).
Lalu Kenapa Abu Nawas tidak pernah kehabisan bahan untuk bercakap ?
Ada yang bilang :” Di balik jenggot dan pecinya, tersimpan konsep pembohongan.”
Selain tukang cakap dan tukang bohong,
Abu Nawas juga terkenal licik dan panjang akal.
Sangkin panjangnya akal Abu Nawas orangpun diakal-akalinya.
Sultan, pejabat pemerintahan dan rakyat, habis diakal-akalinya.
Apalagi jika Abu Nawas menginginkan sesuatu, akalnyapun mulai bekerja.
Sayang, Abu Nawas kini telah tiada,
hilanglah jenggot hilang pula peci dan akal bulusnya.
Memang jasad Abu Nawas telah menyatu dengan tanah.
Namun akal bulus serta cakap pembohong yang tersimpan di balik jenggot dan pecinya masih tetap hidup dan terpelihara dengan baik.
Itulah yang dicakapkan si tukang cakap bila mereka berkumpul bercakap-cakap.
Bermodalkan akal bulus, jenggot dan peci warisan Abu Nawas, mereka terus berkeliling mempraktikkan cara Abu Nawas mengharapkan sesuatu.
Sembari tersenyum dan tertawa yang dibuat-buat, akal merekapun mulai bekerja.
Di awali dengan memberikan bantuan, akal buluspun ikut berperan, ujung-ujungnya minta dukungan, janjinya entar kalau berhasil jadi, akan diperhatikan.
Itulah cakap mereka yang disampaikan kepada para tukang cakap yang lain.
Akhirnya bercakaplah si tukang cakap ;
Ah ! Itukan cakap mereka saja. Dasar tukang cakap, banyak cakapnya.
Hee hee Masa Kampanye Para Calon Bupati/Wakil Bupati diambang pintu…
Cobeh64@yahoo.com
Ada juga tuh, yang minta sumbangan tambah minta dukungan lagi…
SIAPA PEMENANG-NYA ?
Salah satu alasan mengapa kita memiliki frase `kalah sebelum bertanding’ adalah karena pada kenyataannya begitu banyak orang yang enggan untuk ikut dalam pertandingan menyusuri hidup. Hanya karena mereka tahu bahwa mereka tidak akan pernah menjadi pemenang.
Jika hidup kita adalah soal kalah dan menang, mungkin cara berpikir itu bisa diterapkan.
Namun, pada kenyataannya hidup kita tidak selamanya tentang kalah dan menang.
Memang…,ada kalanya kita harus terlibat dalam permainan seperti itu.
Jika kita tidak mengalahkan orang lain, maka orang lain akan mengalahkan kita; dan kita menjadi pecundang.
Namun, sebagian besar kegiatan dalam hidup kita bukan soal itu.
Melainkan soal; bagaimana kita menjalani hidup itu sendiri.
Oleh karena itu, dalam banyak situasi; menjalani hidup itu lebih penting daripada hasil akhirnya.
Anda tentu masih ingat sebuah kisah klasik tentang seorang lelaki lugu yang tengah duduk di sebuah warung pinggir jalan.
Ketika mendekatkan cangkir kopi ke bibirnya, dia terperangah,
karena tiba-biba saja ada segerombolan orang yang berlarian.
Ia lalu bertanya kepada pelayan;”Kenapa sih orang-orang itu pada berlarian begitu?”
Si pemilik warung menjawab:”Ini perlombaan lari marathon, Pak.” Ia menjawab dengan tersenyum dengan ramah, kemudian melanjutkan:
“Pemenangnya akan mendapatkan sebuah piala.” Katanya.
Lalu lelaki itu berkata;”Kalau hanya pemenangnya yang mendapatkan piala, kenapa orang-orang yang lainnya juga pada ikut berlari…?”
Kemungkinan besar, di dunia nyata tidak ada manusia yang cukup lugu untuk melakukan dialog seperti itu.
Setidak-tidaknya dalam konteks `lomba lari marathon’.
Kita semua tahu bahwa pemenang lomba lari marathon hanya satu orang.
Atau paling banyak 3 orang.
Jika panitia berbaik hati menyediakan hadiah sampai juara harapan ketiga
Seperti ketika kita sekolah di SD dulu, maka jumlah pemenangnya paling banyak ada 6 orang.
Tetapi, kita tidak cukup bodoh untuk mempertanyakan;
“Mengapa ratusan orang lainnya ikut berlari juga?”
Tetapi, mari cermati kehidupan sehari-hari kita.
Secara tidak langsung kita sering mengajukan pertanyaan naif seperti itu.
Kita begitu seringnya bertanya; kenapa orang kecil mesti kerja habis-habisan ?
Toh Paling hasilnya cuma segitu-gitu juga.
Ketika masih kuliah di Bogor dulu, saya pernah iseng ngikuti lomba lari jauh semacam Marathon Competition, dalam rangka memperingati hari jadi kota Bogor
Dalam perlombaan itu, ada atlet profesional dari pelatda yang ikut serta, tapi jumlah mereka tidak banyak.
Sedangkan, ratusan peserta lainnya adalah mereka yang paling banter hanya berolah raga seminggu sekali saja, termasuk saya dengan tubuh kerempeng dan napas yang pas-pasan ini.
Bahkan ada juga peserta yang sudah lanjut usia, yang nyaris tidak mungkin bisa menang.
Kami semua mengetahui hal itu.
Tapi, mengapa kami tetap ikut perlombaan itu?
“Ya ya ya, lalu kenapa masih juga mengikuti perlombaan ini?”
Anda boleh bertanya begitu kepada si Kakek veteran yang juga ngotot mau ikut perlombaan.
Dan mungkin dia akan menjawab:
“Saya mah, yang penting sehat, tidak menang juga nggak apa-apa. Yang penting sehat….” kata si Kakek.
Kalau anda tanyakan itu kepada orang dewasa lainnya,
Mereka mungkin akan menjawab: “Demi kesehatan, Mas. Kita perlu berolah raga, kalau menang ya syukur. Tidak juga yah, tidak apa-apalah, yang penting sehat.”
Sedangkan, gadis-gadis remaja berusia belasan tahun mungkin akan
menjawab:”Tau deh, Mas. Pokoknya seru ajjah. Bisa ketemuan sama teman-teman.”
Dan dari para lelaki yang sedang puber semacam saya waktu itu, mungkin anda akan mendengar jawaban :”Asyik Mas. Banyak cewek kece yang ikutan….(hee hee,emang itu tujuannya)”
Pendek kata, ada begitu banyak alasan mengapa orang ikut serta dalam perlombaan lari itu; meskipun mereka tahu tidak akan menang.
Dan di akhir pertandingan, kita akan menemukan senyum kepuasan di setiap wajah yang mengikuti perlombaan.
Ketika sang atlet pelatnas naik pentas untuk menerima tabanas; setiap orang ikut merasa puas.
Tidak ada iri di hati ini.
Sebab, dari awal pun kita sudah tahu bahwa hadiah tabanas dan piala itu bukan untuk kita.
Kita mempunyai bagian masing-masing dalam perlombaan itu.
Sang Kakek, mendapatkan kesempatan untuk berolah raga dengan gembira demi kesehatannya.
Para pemuda senang dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.
Para remaja gembira karena bertemu dengan rekan-rekan seusianya.
(Sambil ngeceng satu sama lain,hee hee) .
Dan tampaknya, semua orang mendapatkan kemenangannya masing-masing.
Kecuali orang-orang yang memilih tidur dibawah selimut.
Dan mereka yang hanya nongkrong di pinggir jalan yang dilewati para pelari.
Lomba lari marathon mungkin sudah bukan olah raga populer lagi di jaman ini.
Tetapi, esensinya masih tetap ada hingga kini.
Kehidupan kita, tidak ubahnya seperti perlombaan lari marathon itu.
Ada sejumlah hadiah disediakan bagi mereka yang berkoneksi sangat kuat.
Bermodal teramat besar. Dan berkedudukan begitu tinggi.
Namun, jika saja orang-orang yang tidak memiliki semua keistimewaan itu memilih untuk berhenti sebelum bertanding; kehidupan kita mungkin akan berubah wajah. Menjadi sebuah ironi ketidakberdayaan
Untungnya, sebagian besar manusia sederhana yang kita lihat adalah orang-orang tangguh.
Mereka adalah pejuang hebat yang tidak mudah menyerah.
Tengoklah mereka yang tidak pernah lelah untuk terus merengkuh hidup.
Mengagumkan sekali.
Meskipun mereka tahu bahwa tidak mungkin untuk mendapatkan pendapatan sejumlah miliaran atau sekedar ratusan ribu rupiah saja; namun mereka tetap melangkah, ikut terlarut dalam geliat hidup.
Mereka tidak hendak berhenti.
Sebab, sekalipun semua orang tahu bahwa uang besar adalah jatah orang-orang besar, namun ikut terlibat dalam permainan keseharian adalah pilihan yang paling bijaksana.
Jika kita berkesempatan untuk menyasar ke pasar-pasar pada pukul tiga pagi, kita akan menemukan beragam jenis orang.
Tukang sayur. Para penyapu jalan.
Para petugas pembersih pasar.
Para tengkulak dan makelar..
Pada pagi harinya kita akan mudah bertemu dengan para buruh tani.
Para hansip dan petugas keamanan, para pegawai kantoran
Para guru bantu disekolah-sekolah reyot (ooops) .
Aih, betapa banyaknya orang yang ikut dalam lari marathon kehidupan ini.
Apakah mereka akan mendapatkan piala? Tidak.
Lantas, mengapa mereka ikut berlari?
Karena, mereka ingin mengajari kita tentang hidup.
Mengajari kita?
Ya. Mengajari kita.
Karena kita yang lebih beruntung ini sering sekali menyia-nyiakan hidup.
Kita terlampau mudah untuk berkeluh kesah.
Ketika kita tahu akan kalah, kita langsung menyerah.
“Untuk apa kita bekerja jika dibayar dengan upah murah?
Cuma membuat kaya atasan saja!” Begitu kita sering berkilah.
“Ngapain susah-susah begitu jika hasilnya cuma segini?”
Kemudian kita memilih untuk tidur lagi.
“Kalau begini caranya, aku berhenti saja!” Lalu kita keluar dari arena.
Malu kita oleh orang-orang sederhana itu.
Padahal, Ayah dan Ibu sudah menyekolahkan kita dengan bersusah payah.
Mereka mengumpulkan rupiah, demi rupiah.
Dengan terengah-engah. Supaya kita bisa sekolah.
Setelah kita lulus sekolah? Kita menjadi orang-orang yang begitu mudahnya untuk menyerah kalah.
Setiap kali dihadapkan pada jalan yang menanjak sedikit saja, kita sudah cepat merasa lelah.
Ketika tersandung dengan kerikil kecil saja, kita sudah mengeluh,
seolah sudah kehilangan kaki sebelah.
Bukan peristiwanya yang menjadi musibah.
Melain kan sikap kita untuk memilih menjadi manusia bermental lemah.
Malu kita oleh orang-orang sederhana itu.
Meskipun mungkin mereka tidak sepintar kita.
Tidak sekolah setinggi kita. Tidak berkulit semulus kita.
Namun, semangat mereka dalam menjalani hidup, bukanlah tandingan bagi kita.
Cobalah sesekali tengok garis-garis wajah mereka.
Disana kita akan menemukan sebuah gambaran tentang hidup semacam apa yang mereka jalani setiap hari.
Tidak lebih mudah dari kita.
Sekalipun begitu; mereka enggan untuk berhenti.
Mereka terus berlari. Untuk berlomba dalam marathon ini.
Perlombaan yang hadiahnya mereka definisikan sendiri.
Yaitu; menunaikan panggilan hidup.
Dan, apakah sesungguhnya panggilan hidup itu?
Untuk menjalani kehidupan itu sendiri.
Dengan segenap bekal yang telah Tuhan berikan di dalam diri kita masin g-masing. Bersediakah kita mendayagunakannya?
Hidup tidak selamanya tentang kalah dan menang.
Melain kan tentang bagaimana kita menjalaninya dengan tindakan-tindakan yang memberi makna positif.
Yeaah Selamat berlomba…
Juga bagi para calon Bupati/Wakil Bupati Bondowoso di Pilkada 2008.
Anda Semua adalah yang terbaik !!!!!!
KOMUNIKASI DAN KAMPANYE
Secara sederhana Kita membedakan ada dua sifat Komunikasi, yaitu Monologis dan Dialogis. Monologis adalah jenis komunikasi satu arah atau secara satire orang awam menyebutnya sebagai bicara sendirian.
Sedang Komunikasi dialogis adalah jenis komunikasi dua arah atau bisa juga disebut sebagai percakapan.
Dalam Komunikasi monologis, seseorang mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya dengan kata-kata tanpa memperhatikan apakah orang disekitarnya mengerti atau tidak, peduli atau tidak. Sementara Komunikasi Dialogis adalah komunikasi dua arah, yang sangat memperhatikan kondisi dan isi pikiran pihak yang diajak berkomunikasi, seperti bentuk diskusi atau juga seperti percakapan diantara para politisi yang membahas satu atau beberapa isu.
Orang-orang bijak jelas memuji dialog dan mengecam monolog.
Banyak sebutan yang berkonotasi positif bagi komunikasi dialogis ini, seperti misal Komunikasi Fasilitatif, Komunikasi Suportif, komunikasi Partisipatif.
Sebaliknya Komunikasi monologis sering mendapat sebutan yang berkonotasi negatif, seperti Komunikasi yang defensif, manipulatif.
Sebuah organisasi yang harmonis modern ditandai dengan banyaknya Dialog.
Banyak Organisasi maju karena dikembangkannya pola komunikasi Dialogis.
Namun seperti yang kita amati, seringkali di masyarakat, juga di organisasi-organisasi masyarakat dan Politik, yang terjadi adalah komunikasi Monologis dalam kemasan Dialogis.
Tampak luar memang terkesan dialogis, karena ciri-ciri luar dialog terpenuhi, tapi hakikat sesungguhnya dialog sama sekali tidak ada.
Semua percakapan secara lahiriah adalah dialog, tetapi betapa banyak percakapan sebenarnya hanyalah Monolog.
Seorang Bapak mengobrol dengan anak-anaknya, tetapi sang bapak tidak pernah memperkenankan anak-anaknya untuk berbeda pendapat dengan sang bapak. Seorang Pejabat memberikan petunjuk kepada rakyatnya, yang sekali-sekali sang pejabat menjawab pertanyaan atau memberikan komentar atas tanggapan rakyatnya dengan jawaban yang hanya untuk mempertahankan petunjuk Sang pejabat.
Seorang majikan kelihatannya berbincang-bincang dengan pelayannya, tetapi yang diajak berbincang hanya mengucapkan kalimat yang sama “ Nggiiih nDoro”, tak ubahnya seperti kondisi pembahasan di parlemen yang berujung pada ucapan “ Setujuuuuuuu”.
Semuanya secara lahiriah memang tampak berbentuk dialog, tetapi secara hakiki sebenarnya semuanya adalah monolog.
Bentuk-bentuk komunikasi dialogis yang semu tersebut adalah sisa-sisa budaya feodalistik yang masih dipertahankan di masyarakat dan di lingkungan yang paternalistik.
Dan bukanlah suatu yang meng-Kaget-kan apabila beberapa organisasi politik yang mempunyai basis massa tradisional feodalistik, mempertahankan jenis komunikasi dialogis Semu ini.
Kondisi ini secara tidak disadari telah menghambat pendidikan politik Masyarakat, sehingga yang kemudian terjadi bukanlah pencerahan, tapi penyesatan pikiran di masyarakat.
Yang menentukan apakah percakapan itu monolog atau dialog, bukan pada bentuk luarnya, tapi karakter dan perilaku komunikatornya.
Dalam monolog, Kita memandang orang lain sebagai objek untuk dimanipulasi demi kepentingan Kita atau kelompok Kita sendiri.
Dalam monolog, terselip keinginan untuk mempertontonkan kekuasaan Kita, Kita hanya membela prestise dan otoritas Kita, dalam upaya membentuk orang lain untuk memperkuat kondisi/kekuasaan Kita.
Motivasi dari monolog adalah menyeret, menguasai, mendominasi, meng-eksploitasi orang yang diajak berkomunikasi, bukan untuk meng-Elaborasi pendapat orang lain demi menemukan sebuah kebenaran, tapi sebuah kemenangan. diskusi yang notabene-nya adalah Komunikasi dialogis untuk mencari solusi yang benar, seringkali lalu menjadi debat (Komunikasi Dialogis Semu) untuk mencari kemenangan.
Dalam konteks Retorika, Kita kenal tiga tipe ahli retorika, dua diantaranya menerapkan monolog walaupun dilakukan dalam bentuk percakapan timbal balik.
Pertama, Tipe yang melihat pihak lain sebagai obyek, Korban atau manusia rendah yang harus digiring kesasaran.
Sikapnya superioritas, dominasi, pemaksaan, kecaman, ancaman.
Contoh jenis ini adalah para juru Kampanye yang menganggap massa yang hadir sebagai kerbau yang harus dicocok hidungnya, digiring untuk mendukung calon tertentu.
Kedua, Tipe yang melihat pihak lain sebagai sasaran rayuan mautnya. Sikapnya mempesona, merayu (persuasif). Tipe ini menggunakan logika yang rancu, memutarbalikkan fakta, memanfaatkan motif-motif manusia yang rendah, bermain dengan analogi. Tipe ini akan menyeret Massa dengan tipuan, pameran kebaikan atau iming-iming janji. Tipe ini juga banyak Kita temukan pada Juru kampanye.
Ketiga, Tipe yang ketiga ini adalah pelaku dialog sejati. Tipe ini melihat pihak lain sebagai mitra. Hubungannya dengan pihak lain didasarkan pada penghormatan, persamaan, keterbukaan pada pendapat/gagasan baru, bersedia menerima kritik, dan keinginan tulus untuk memberikan pilihan bebas pada orang lain. Tipe ini bisa Kita temui pada sahabat karib, Filosof, Ilmuwan, Para Sufi. Tapi sayang Kita belum pernah menemukan tipe ini diantara sekian banyak Politisi.
Bondowoso saat hampir Pilkada 2008
jusT kidding boss!!! but maybe its true…….
>janji itu bunganya bohong. bisa- bisa bukan bukti tapi janji.
>norok sapa aman, norok sapa nyaman, tapi sapa ye SE ” NYAMAN ” ???
>bersama membangun bondowoso, kok mirip ” bersatu kita bisa ” ya, sudah terbukti belum bisa ( 4 years, bo’. BBM seret)
>saya PAHAM kok kalo anda punya kepentingan, saya juga PAHAM kok kalo anda butuh dukungan, tapi yang saya tidak PAHAM, bisa nggak anda mimpin Bondowoso ya ??????????????????????????????????
be care FULL jangan sampai kita dibeli, apalagi cuma 50 rb, ga cukup buat ganti bondowoso kalo ancur!
emang sih sekarang bagi-bagi tuh duwit, tapi jangan salah cak ” TOTALAN ” tuh di belakang, sengak mon la dadih mik nyare genteh.
ada udang di balik batu, ga mungkin udang mau kalo ga ada ” MAU “nya … batu kan berat
berakit-rakit kehulu berenang-renang ke tepian, ngeluarin duwit dulu nyari ganti kemudian
mari kita selamatkan bumi bondowoso dengan ” GERAKAN SADAR PILIH PILKADA ”
pUTRA dAERAH ITU BANYAK MAS.GUE YAKIN LOE YANG BACA JUGA PUTRA DAERAH, TAPI GA SEMUA HARUS MIMPIN KAN???
NURUT GUE YANG BENER NICH ” pUTRA pILIHAN rAKYAT “
Argometer Made In Japan
Gus Dur bersama sahabatnya Turis Jepang mau pergi ke Bandara.
Mereka naik taksi di jalan, tiba-tiba saja ada mobil kencang banget, menyalip taksi tersebut.
Dengan bangga si Jepang berteriak,
“Aaaah Toyota made in Japan sangat cepat…!”
Enggak lama kemudian mobil lain nyalip juga taksi tersebut.
Si Jepang teriak lagi “Aaaah Nissan made in Japan sangat cepat.”
Enggak lama kemudian lewat lagi satu mobil menyalip mobil tersebut dan si Jepang teriak lagi “Aaaah Mitsubishi made in Japan sangat cepat…!”
Gus Dur merasa tak enak hati melihat gaya si Jepang ini.
Gus Dur lalu berbisik ke Sopir Taksi…
Kemudian, sesampainya di bandara, sopir taksi bilang ke si Jepang.
Supir taksi : “100 dolar please…”
Si Jepang : Haah 100 dolars…?! Its not that far from the hotel…!!”
Gus Dur : “Aaaah… Argometer made in Japan kan sangat cepat sekali!!”
Heee hee Gus Dur Kok dilawan…..
Cobeh64@yahoo.com Just want to make You Happy
Seringkali kita memang terjebak slogan, seperti apa yang dipersoalkan rekan BONDOWOSO BERSERI KEMBANG. Sepakat bahwa kita memang mencari pemimpin yang mampu memimpin.
#Kalau cari bukti bukan dengan spekulasi, #cari aman nggak dengan milih bupati, #bersatu ya bersatu, tapi ini bukan urusan persatuan tapi kemampuan memenej pemerintahan. Kalau tarik tambang mah memang harus bersatu..# PAHAM? ada proses belajar, ada kemampuan belajar, dan ada hasil belajar. Anda akan paham kalau pernah belajar, mampu belajar dan ada hasil dari proses belajar itu..kalau belum, anda ya belum paham. Jangan cari kambing hitam kalau salah hasil belajarnya, kok malah bilang gurunya nggak beres?
Putra daerah? kayak cari bibit hewan unggul aja ya…kalau pengin kuda gagah cari peranakan Sumbawa atau Australia..bagus deh..he he. Ini milih Bupati Bung…bukan urusan ayam ras..!
Terlalu sering Kita sudah dijejali dengan petuah-petuah cerita klise yang membosankan tentang pentingnya mengutamakan IBU,
Kami tak berani mengabaikan karena Tak luput Nabi Muhammad-pun turut mengingatkan Kita akan pentingnya mengutamakan Ibu ini…
Sebenarnya ada apa sih…
bukankah menurut Mitos, Perempuan (Kaum Ibu) itu hanyalah sempalan dari rusuk Kaum Lelaki ?
Kenapa bukan kaum Bapak (Laki-Laki} yang telah mengorbankan sebagian rusuknya yang diagungkan ?
Apa ini Mitos sesat ????
Mengapa ridho Allah, SWT tergantung ridho IBU,
Belum selesai saya menemukan jawaban yang menenangkan..atas protes Gender ini…
Tiba-tiba Saya mendapat Kiriman E-Mail yang bercerita tentang Saktinya Ibu…
Berikut Isi Cerita Email-nya :
Tidak bermaksud mendramatisir,
saat itu tempat saya bekerja mengadakan tour keluarga,
kondisi Keluarga kami saat itu sedang tongpes,
Namun karena desakan pimpinan saya harus ikut,
Terpaksalah pada saat hari H Kami sekeluarga berangkat,
Istri Saya sebenarnya ragu untuk ikut,
karena saat itu Kami hanya megang duit 50.000,-
Padahal dua anak Kami pingin ikut
Setelah dipertimbangkan akhirnya tetap berangkat,
Dengan menggunakan motor bebek buatan cina kita berangkat,
Namun saat mau tancap gas sang IBU tercinta menyetop saya, minta duit untuk dibawa ke acara kondangan.
Dengan membuang semua pikiran-pikiran,
akhirnya uang yang cuma selembar 50ribuan saya berikan ke ibu saya.
Setelah itu saya tancap gas menuju ke tempat kumpulnya bis,
tadinya saya rencana mo minjem duit ke temen-temen tapi ga jadi.
Sampai di tujuan wiasata anak-anak kami pegangin erat-erat,
takut tergoda tawaran para asongan yang menawarkan dagangannya, minta jajan ini itu,
Tibalah saatnya Rombongan wisata berkumpul
Saya segera menggiring anak-anak ke bagian belakang,
saya minta ke istri nenangkan anak-anak yang mulai rewel minta ini itu…
Di tengah upaya Kami menenangkan anak-anak yang mulai meradang..
Tiba-tiba dari corong megaphone yang dibawa panitia,
Terdengar nama keluarga kami dipanggil berulang-ulang,
Terus terang Saya Kaget merasa bersalah karena keluarga kami tak terlalu fokus pada acara tersebut.
Apa Kami ditegur ?
Tapi kenapa Panitia malah menjabat tangan saya ?
Ya Allah…
Ternyata pada saat kami sibuk dengan masalah Keluarga Kami sendiri,
Si Panitia tadi juga sibuk mengundi hadiah untuk para peserta Wisata..
Tanpa disangka saya dapat doorprize televisi 14\”,
Dan yang lebih mengkagetkan lagi karena tiba-tiba temen saya langsung nawarin untuk bayarin TV itu, cash 500 ribu,
Tanpa basa basi saya ambil uang itu,
anak-anak yang tadi kami bujuk-bujuk,
Kemudian kami lepas bebas.. mo jajan apa aja,
Waktu sekolah dulu, matematika saya selalu diatas angka 8,
Saya Bisa Masuk Perguruan Tinggi Tanpa Test,
Tapi saya jadi merasa bodoh saat saya berhadapan dengan Fakta ini,
Bahwa ternyata ada Matematikanya 50.000 – 50.000 = 500.000 ?
Sebenarnya siapakah Ibu Kita,….?
mengapa sampai setua ini saya tak kunjung memahami,..
Mengapa saya tetap sinis pada kaum perempuan
sehingga sangat sering saya bergumam
“She is Woman Not Human Being ??”
Dan Sampai sekarangpun saya benci..
karena pertanyaan ini tetap menghinggapi pikiran saya
What a Fool Man I am !!!
Cobeh64@yahoo.com
LUPA dan LUPAKAN SAJA
Lupa, dalam politik bukan perkara tidak ingat,
Melainkan senjata bagi orang yang tak ingin belajar bertanggung jawab.
Di sini politik seolah artinya manipulasi, tipu-menipu, dan teknik menggelapkan apa saja.
Termasuk meraup uang dengan cara-cara/kemasan mekanisme Politik.
Dari tingkah laku manipulatif macam ini, mana mungkin bisa muncul nama baik ?
“Kalau sekadar umur panjang (dalam arti politis) mungkin bisa.
Tetapi, jangan lupa, umur panjang tak selalu harfiah berarti hidup lebih lama dari orang lain.
Ketika penyair Chairil Anwar memproklamasikan diri: “aku mau hidup seribu tahun lagi”, bukan berarti ia minta umur panjang sebagaimana secara naif kita mengartikannya.
Ia mati cepat, tetapi panjang umur dalam arti sebenarnya karena namanya dikenang dengan hormat, dan penuh kekaguman.
Menjadi atau tak menjadi pikun, budek, dan rabun, dan pelupa, itu sebuah pilihan.
saya kira sebaiknya politisi Kita tak usah berusaha seperti Dasamuka.
Apa gunanya umur panjang kalau umur itu malah menjadi musibah ?
Apa enaknya dicerca, diburu-buru, dan menimbulkan kemuakan publik ?
Banyak orang terkenal di mata dan di telinga publik (siapa yang tidak kenal Ketua Partai?),
tetapi dijauhi hati publik,
seperti mereka menjauhi jenis-jenis penyakit menular.
Mungkin ini bagian dari siksa neraka yang sudah mulai dicicipi karena umur panjang dan popularitas yang tidak berkah.
“Lupakah mereka berdoa minta umur panjang yang berkah, dan rizki halal ?”
Mungkin tidak.
Dan saya tahu, begitu banyak politisi yang kelihatan saleh dan sopan kepada Tuhan.
Sungguh,..Sulit kita memahami mengapa mereka menyeret-nyeret Tuhan dan simbol-simbol Tuhan untuk memberkati penyimpangan mereka?
Saya kagum pada keberanian politisi macam itu,Luar Biasa…
meskipun saya tak ingin belajar dari sana..
karena, sekali lagi, apa enaknya hidup dengan cara sembunyi-sembunyi, dicerca, dan dijauhi hingga kita harus berlagak pikun, pura-pura sakit, pura-pura lupa?
Beristirahat sejenak dalam kompetisi politik, saya kira tak menjadi masalah, asal kita masih bisa menjadi manusia yang baik.
Tetapi, manusia baik tak mungkin hidup dalam kepalsuan, dan pura-pura lupa hal-hal penting dan mendasar dalam hidup, yang harus dipertanggungjawabkan kepada publik dan pada Tuhan.
Lupakan sajalah Poltisi yang suka macak Lupa..
Agar tak jadi bencana di Bondowoso…!
Dasamuka Kalah
Batara Rama ditakdirkan dewa berumur sangat panjang.
Tapi, Dasamuka berupaya untuk merebut jatah ini.
Raksasa ini pergi ke kahyangan dan meminta secara paksa umur itu sambil mengancam membikin kerusakan di kahyangan.
Dewa-dewa takut dan umur panjang pun diberikan pada raksasa jahat itu.
Ketika Rama datang menagih janji jatah umur panjangnya, dewa-dewa bingung merasa bersalah.
Tetapi, para dewa tak pernah kehabisan akal.
Rama dibolehkan berusaha merebut kembali jatahnya itu dan dewa memberkatinya.
Dan benar, di perjalanan pulang, Dasamuka bertemu seorang kakek gaek dengan tubuh kisut, sangat lemah, tuli berat, dan rabun.
“Kek, siapa kamu dan berapa umurmu?” tanya Dasamuka.
“Ha?” jawab si kakek lemah. Suaranya sayup-sayup.
“Berapa umurmu, kok, kamu kelihatan begitu tua?
“Sumur? O…, jauh dari sini. Haus to, sampean?”
“Umur,” teriak Dasamuka. “Umurmu berapa? Budek ya kamu?”
“Kok sampean membentak-bentak, sampean ini siapa, dan apa salah saya?”
“Pelan tidak dengar, keras dikira membentak,” pikir Dasamuka.
“Aku menanyakan berapa umurmu?” Dasamuka mengulang dengan suara keras.
“Lha, iya, sumurnya jauh. Aku kira sampean tanya umur saya.”
“Aku memang bertanya umurmu,” si raksasa marah.
“Oo, berapa ya? Ada barangkali seratus, mungkin dua ratus tahun.”
“Siapa namamu?” teriak raksasa itu.
“Nama? Lupa. Siapa ya?”
“Di mana rumahmu?”
“Wah, lupa. Nanti saya tanya tetangga-tetangga dulu.”
Dasamuka gemetar.
Umur segitu sudah demikian parah kondisi tubuhnya dan lupa rumah, lupa nama.
Padahal baru saja ia minta dewa umur tujuh serut, tujuh brekutut, tujuh srigagak, tujuh sriwalang: pokoknya umur panjang tak terbayangkan.
Apa bisa tubuhnya menyangga umur sepanjang itu?
Dia takut sekali.
Maka, ia tiba-tiba saja memutuskan agar si gaek ini saja yang harus menyangga umur panjang dengan segenap risikonya.
“Sampean kok, memaksa. Aku tidak minta, lho,” kata si gaek.”Dan sampean rela.”
“Ya. Ambillah,” jawab Dasamuka.
Syahdan, dalam sekejap, si gaek pun kontan berubah kembali menjadi Batara Rama.
Melihat perubahan itu, Dasamuka kaget, panik, dan marah besar, tetapi ia sudah telanjur kalah waskita, kalah taktik, kalah strategi. Dewa-dewa menyaksikan kekalahan itu.
Niat dan Cara
Sangat sering kita diingatkan bahwa
“Segala sesuatu itu tergantung niatnya !”
Ajaran itu tertanam sejak lama di benak kita,
Dan ajaran itu sering kali kita jadikan alasan pembelaan saat kita disalahkan..
“Lhoo niat saya baik Kok…” itu ALASAN pembelaan Kita
Tapi saat alasan pembelaan yang bersumber pada ajaran itu kita sampaikan, ternyata tak menyelesaikan masalah…
Hmmm….Mengapa dalam praktek kita justru sering terbentur masalah, padahal niat kita baik ??
Apakah ajaran itu salah ?
Tentu tidak,,,
Tapi mengabaikan cara dengan semata-mata mengandalkan niat saja disitulah letak masalahnya..
Berikut ini ada cerita menarik,
“Kenapa kamu mencuri tip yg ada di dalam mobil?” Tanya polisi kpd sahli,waktu diperiksa di kantor polisi.
“Terpaksa,Pak,” kata Sahli
“Terpaksa gimana??”
“Ceritanya begini..dari pagi saya mencari kantor polisi,
Tapi tidak ketemu terus nanya ke temen, malah diem aja.
Akhirnya saya nyari cara…gimana Supaya kantor polisi bisa ketemu,
Ya saya nyoba maling tip di mobil…
Dan terbukti cara saya itu berhasil,, saya berhasil nemukan kantor polisi”
“Terus, ngapain kamu nyari kantor polisi segala?”
“I..iii…itu, pak…saya mau membuat…Surat Kelakuan Baik (SKCK)
Hee hee hee
Cukup Sebutir Beras
Cina yang sekarang muncul sebagai negara super power dahulunya pernah sangat miskin.
Dengan jumlah penduduk yang berjumlah 1 milyar kala itu bukan barang mudah bagi pemerintah Cina untuk mensejahterakan rakyatnya.
Hutang luar negeri dari negara tetangga terdekat pun menjadi gantungan yaitu dari negara Uni Sovyet.
Alkisah suatu hari terjadi perselisihan paham antara Mao Zedong pemimpin Cina era itu dengan pemimpin Sovyet.
Perselisihan begitu panas sampai keluar statement dari pemimpin Sovyet, “Sampai rakyat Cina harus berbagi 1 celana dalam untuk 2 orang pun, Cina tetap tidak akan mampu membayar hutangnya.”
Ucapan yang sangat menyinggung perasaan rakyat Cina itupun disampaikan Mao kepada rakyatnya dengan cara menyiarkannya lewat siaran radio, penghinaan dari pemimpin Sovyet itu, secara terus menerus dari pagi hingga malam ke seluruh negeri sambil mengajak segenap rakyat Cina untuk bangkit dan melawan penghinaan tersebut dengan cara berkorban.
Ajakan Mao kepada rakyatnya adalah menyisihkan 1 butir beras,
ya, hanya 1 butir beras untuk setiap anggota keluarga, setiap kali mereka akan memasak. Jika 1 rumah tangga terdiri dari 3 orang maka cukup sisihkan 3 butir beras.
Beras yang disisihkan dari 1 Milyar penduduk Cina tersebut, tidak dikorupsi tentunya akan menghasilkan 1 milyar butir beras setiap hari.
Hasilnya dikumpulkan ke pemerintah untuk dijual.
Uangnya digunakan untuk membayar hutang kepada negara pemberi hutang, yang telah menghina mereka.
Akhirnya Cina berhasil melunasi hutang mereka ke Sovyet dalam waktu yang sangat cepat.
Keterhinaan yang mendalam telah membangkitkan rasa nasionalisme Cina untuk bangkit melawan hinaan tersebut dengan tindakan nyata, bukan hanya tindakan seremonial, pidato atau upacara di stadion besar.
Kiranya kisah di atas bisa dijadikan contoh oleh kita yang tengah terpuruk dengan persoalan kemiskinan.
Potensi Kita yang demikian besar selama ini tidak menjadi kekuatan bahkan sebaliknya menjadi beban karena mereka tidak dipimpin oleh pemimpin yang tepat.
Kita sering silau oleh hal-hal besar namun seringkali mengabaikan kekuatan dari hal kecil namun dilakukan dengan sepenuh hati. Sebutir padi sehari bisa membalik keadaan terhina menjadi terangkat.
Maukah kita?
APAKAH KITA SUDAH LUPA AKAN BUDAYA GOTONG ROYONG BANGSA KITA,.???
Pepatah mengatakan “Orang Pintar Belajar dari Pengalaman” dan “Orang Bijak Belajar dari Pengalaman Orang lain”.
(Kisah di atas diceritakan oleh Kakak kelas yg pengusaha yang kerap kali berkunjung ke negara Cina).
Mas Amien Menang…?
Iyyalah…itu sudah tak perlu lagi diperdebatkan.
What`s the next ?
Semua tentu berharap sama, Bondowoso lalu jadi lebih baik..
Karena dipimpin oleh orang muda,
Punya capabilitas..
Relasi Bagus..
And so on and so on..
Tapi sadarkah kita bahwa ada potensi yang sebenarnya cukup mencemaskan
yang pada pemerintahan Amien nanti menjadi ganjalan pada Rakyat kebanyakan..!???
Tidakkah Kita cemas pada calon yang didukung kultur paternalistik..?
Apakah kita tidak cemas pada Struktur Kasta dalam kultur Paternalistik ?
Tidakkah Kita cemas pada fakta bhw kultur paternalistik itu cenderung anti kritik ?
Kebenaran bukanlah masalah isi,tapi siapa yang berbicara ?
Kepantasan penderitaan juga bukanlah pada persoalan rasa, tapi siapa yang mengalami !
Penghormatan bukan diukur dari kebaikan yang diberikan,tapi dari Kasta mana berasal !
Ya Allah..
Sangat menyakitkan bila nantinya masih saja subur berkembang pandangan bahwa si miskin sah dieksploitasi karena persoalan Kasta.!
Cukup menyakitkan bila nanti lalu tetap terjadi si miskin mensubsidi si kaya karena persoalan Kasta !
Cukup menyakitkan bila kebenaran diukur dari kasta mana kebenaran itu diteriakkan..!
Cukup menyakitkan bila kesantunan lalu sah diabaikan karena persoalan Kasta !
Kalau ini benar-benar terjadi, lalu ini kemenangan siapa ?
Bisakah Mas Amien menepis kecemasan ini ????
Dalam sejarah kepemimpinan Gus Dur di NU, ditandai dengan munculnya sayap muda NU, yaitu mereka dengan basic pesantren, tapi ditempa dengan pendidikan lanjut di lembaga non-pesantren atau ditempa di lembaga dengan kultur berbeda. Kelompok ini relatif membawa perubahan segar bagi NU-pesantren, walau ada yang mengambil peran “pemacu” seperti saudara-saudara kita di JIL. Tapi harusnya kita yakin akan sebuah impian, Bondowoso akan lebih baik, di bawah generasi sayap muda NU ini…
Semoga mas Amin bisa… saya yakin mas Amin adalah orang yang berpikiran moderat dengan dukungan kultur paternalistik. Bagi semua yang ingin Bondowoso maju hanya satu cara yaitu sering2 mengingatkan / mengkritik (tentunya kritik yg membangun bukan asal kritik tanpa memberikan solusi) mas Amin.
Blog ini salah satu tempat untuk mengingatkan calon Pemimpin kita, dan semoga mas Amin bisa menerima setiap kritik membangun. Balas budi pada perorangan / kelompok tidak harus dengan memberikan proyek / fasilitas.
Dengan berusaha membawa Bondowoso menuju kepada keadaan yang lebih baik sudah merupakan balas budi bagi semua golongan, baik itu pendukung mas Amin atau bukan.
Selama ini hanya kemajuan fisik / struktural yang lebih berkembang di Bondowoso. Semoga mas Amin bisa meberikan perubahan yang langsung bisa dirasakan oleh warga Bondowoso.
Pendidikan murah contohnya, gak perlu gratislah… (karena kita bukan Kabupaten yang kaya). Banyak sekali kebocoran di bidang Pendidikan yang akibatnya harus dipikul oleh semua warga Bondowoso hanya karena ulah sgelintir orang.
Rakyat tau… namun tidak bisa berbuat.. Pemimpin tau…. tapi tidak berbuat…
Semoga mas Amin seorang Pemimpin yang mampu Berbuat bagi rakyat Bondowoso.
Mungkin harapan ini terlalu polos / muluk… Tapi siapa yang tau Bondowoso akan semaju apa? Kenyataan bisa terwujud karena berawal dari sebuah harapan / mimpi / angan2….
Semoga….
Bagaimana kalau diskusinya kita balik? “MENCARI RAKYAT KREDIBEL DAN KAPABEL BAGI SIAPAPUN PEMIMPINNYA”. Jadinya kayak diskusi lebih dulu mana telur sama ayam? he he. Artinya bahwa secara jujur, kita bersama sedang cemas menilik kondisi Bondowoso. Pemimpin dan rakyat seperti sedang berlomba mengkhianati dirinya sendiri dengan pragmatisme yang merajalela. Padahal pragmatisme tidak akan pernah menjadi jalan keluar dari persoalan sosial apapun, sedang di sisi lain, kita sedang dihimpit ragam persoalan sosial…lalu bagaimana?
“INI BUKAN KRITIK”
Dalam suatu moment, seorang menyampaikan masukan atas kinerja Tim.
Kritik ini disampaikan pada A, yang sering berkomunikasi dengan orang-orang dalam Tim.
Maka A menyampaikan pada temannya B yang merupakan salah satu dari Tim.
Lalu terjadilah dialog sbb..
A : Tadi ada masukan dari orang
B : Oh ya, apa itu ?
A : Katanya Tim kerjanya si Anu ndak profesional , dan harusnya Tim itu bekerja untuk Owner bukan untuk Tim itu sendiri.
kinerja Tim itu harus segera dievaluasi.
B : Hooh, siapa yang bilang…?
A : itu lho…. si Mas X
B : Hoooooh (Hooh lagi,tapi kali ini dengan suara lebih panjang)…
kalau si X itu sih memang punya sentimen pribadi. Udah biasa kok kaya begitu.
A : … Hee?
Ada yang merasa aneh dengan contoh itu?
Ya, temen di Tim B menjadikan alasan sentimen Mas X sebagai excuse atas kekurangan yang terjadi.
Mungkin ia melakukannya tanpa sadar, tapi dengan cara itu ia malah mengabaikan inti kritikan itu sendiri.
Contoh lain lagi.
Dalam suatu rapat, C dan juga beberapa yang lainnya datang terlambat dan setelah rapat selesai, D menyampaikan sesuatu pada C.
Terjadilah dialog seperti berikut ini :
D : Tadi ada yang sempat ngomong sama anggota yang lain, protes sama jam karet anggota rapat. Katanya Itu sama aja menzalimi orang lain yang udah berusaha tepat waktu.
Ke depannya harusnya semua bisa lebih disiplin, gitu katanya.
C : Eh? Siapa yang ngomong?
D : Si F…
C : Hoooooh, ya iya lah.
Dia kan memang senengnya ngritik orang. Wajar sih dia bilang begitu.
D : Lho…?? *bengong *
Ada yang (lagi-lagi) aneh kan?
Ya, dengan menuding sosok F tukang kritik, C melindungi diri dari kesalahannya yang dikritik oleh F….
Spontan….
Itu contoh umum yang sering terjadi dan mungkin juga anda sering menemukan contoh sejenis lainnya .
Ini hanya sekedar mengangkat fenomena, bahwa ternyata masih sebegitunya masyarakat kita dalam menyikapi kritik yang ada.
Bahkan mereka melakukannya dengan refleks, spontan, tidak sadar.
Reaksi pun beragam.
Kejadian umum lain yang biasanya kita temui, ada yang bereaksi secara ekstrem,
penuh emosi,
mengecam yang memberi kritik,
membungkam kemungkinan munculnya kritik-kritik yang lain dengan kekuasaan yang dimiliki ataupun jalan lainnya.
Inti tujuannya, berhentilah wahai pemberi kritik…..
Selain contoh di dunia nyata seperti itu,
fenomena mirip-mirip itu terjadi pula di dunia maya ini.
Terutama di blogosphere ini misalnya saat diskusi atau menanggapi pendapat orang lain, ternyata sikap anti kritik atau menutup diri dari kritik masih begitu kental sekali.
Refleksinya bisa kita lihat dari reaksi dan tanggapan yang muncul.
Beragam. Warna warni.
Bahkan pada beberapa terkesan dipenuhi emosi, merasa `diserang`, disudutkan, `dijatuhkan` ,dimusuhi.
Macam-macamlah.
Hingga akhirnya malah melupakan hal penting, yaitu substansi kritik itu sendiri.
Pertanda apa ini ?
Entahlah…
Mungkin ada hubungannya dengan pola pikir dan budaya anti kritik sebagian masyarakat kita yang terbentuk karena pengaruh lingkungan sosial.
Eh….Kok Yang menjadi kambing hitamnya malah lingkungan sosial.
Apa betul ?
(Selalunya mencari kambing hitam itu mudah ya ?)
Kalau begitu jangan menyalahkan siapa-siapa lah, atau entah apa-apa lah.
Lihat saja diri sendiri.
Ini ada hubungannya dengan realita bahwa terkadang, ternyata, kita lebih suka, lebih mudah, dan lebih cepat mengedepankan ego, ketimbang logika berpikir secara jernih.
Jadinya tanpa sadar kita dengan terburu-buru menyimpulkan bahwa yang memberi kritik berikut kritikannya itu (misalnya), adalah sepele, tidak penting, hanya cuap-cuap aneh yang tidak perlu dilayani, orang-orang kurang kerjaan yang lagi stress, provokator ide sesat, dan seabreg tuduhan lainnya (baik terselubung dalam hati atau terang-terangan) yang dengan segera tanpa disadari, hal itu `membentengi` mata, hati dan pikiran untuk merenungkan dan memikirkan inti kritikan itu sendiri.
Ini bahaya tidak ?
Bisa dikatakan iya..
Kenapa ?
Bayangkan saja jika sudah tidak ada lagi yang peduli,
tidak ada reaksi apapun atas ketidakberesan, ketidakbenaran, penyimpangan-penyimpangan dan hal-hal lainnya di sekeliling anda.
Bukankah keadaan ini tidak sehat khaaan ?
Karena itu, disinilah kritik menjadi penting…
Bahkan pada lingkup yang lebih luas, kritik bisa menjadi kontrol sosial yang berimbang dengan usaha-usaha menjalankan peraturan yang sudah baik.
Dan seperti yang sudah dijelaskan tadi, ternyata masih ada yang tidak bisa terima saat dikritik.
Karena egokah ?
Ego pribadi ? Agaknya sih begitu.
Silahkan jika anda punya pendapat lainnya.
Lalu bagaimana caranya supaya orang bisa menerima kritik dengan sikap terbuka dan tidak egois ?
Yaa…(mungkin) kendalikan ego, atau…kurangi ego !
Kurangi ????
Ya Iya lah, karena menghilangkan jelas tidak mungkin.
Hidup tanpa ego itu bukan lagi manusia, tapi jadi seperti malaikat kayaknya ?
Jadi begitu deh, kalau manajemen ego-nya sudah lumayan, maka anda akan santai saat ada kritikan yang mampir.
Kalaupun pada detik, menit, jam, hari, minggu (lanjutkan sendiri hee) pertama anda akan sedikit tersinggung, atau belum ngeh dan masih tidak habis pikir kenapa bisa dikritik, dengan ego yang terkendali, pikiran anda akan dengan mudah mendampingi anda menelusuri substansi kritik itu sendiri.
Pada keadaan seperti ini, anda sudah tidak akan mempermasalahkan lagi,
siapa orangnya yang sudah berani-beraninya mengkritik anda,
latar belakang maksud orang (yg jangan-jangan ingin menjatuhkan) yang memberi kritikan itu, dan pikiran-pikiran horor lainnya,
karena anda mulai bisa melihat, bahwa TERNYATA, memang ada hal yang tidak beres pada obyek yang dikritisi dan ada yang (berusaha) mengupayakan keadaan ke arah yang lebih baik.
Anda mulai membuka diri pada inti kritikan itu sendiri.
Dan tentu saja anda tidak perlu capek-capek Tsu`Udzon lagi kan ?
Hohoho, jadi ?
Ya, jadi kita mulai belajar bijak sekarang.
Dikiiiit…
Kita mulai bisa membuka diri pada kritik dan juga mulai kritis.
Melihat sesuatu secara objektif dengan tidak menempatkan ego di barisan terdepan.
Bagaimana ?
Dengan begitu budaya anti-kritik di masyarakat kita sudah bisa kita tinggalkan bukan ?
Ah iya, katanya kritikan jauh lebih punya efek positif ketimbang pujian.
Terlalu banyak dipuji bisa bikin orang stagnasi dan merasa tidak perlu lagi mengembangkan diri,
tapi terlalu banyak dikritik akan jadi cambuk untuk selalu (berusaha) memperbaiki diri.
Lalu, kritik yang bagaimana ?
Ah, jangan pura-pura begitu, anda mesti tahu kritik yang seperti apa.
Ya kan ?
Ya kan ?
Ada juga orang yang mengambil sikap anti kritik tapi bukan didasarkan pemikiran tentang eksistensi dan pertahanan diri, melainkan pada pemujaan diri bahwa dia “is the best” dalam segala hal apapun. Jadi tidak terletak pada kritik atau saran, tapi apapun yang “bukan dari aku” adalah salah, sedangkan “semua yang dari aku” adalah benar…dan ini memenuhi salah satu syarat dari JIWA-JIWA YANG KERDIL…
Memasuki dunia kritik mengkritik mengharuskan kita memahami betul hakikat serta aturan mainnya.
Karena ibarat pedang yang bermata dua, kritikan bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat atau sebaliknya.
Kesalahan banyak orang dalam melakoni hal ini biasanya terletak pada tidak benarnya motivasi serta tidak membiasakan melatih diri untuk menyampaikan pendapat secara bijak, benar dan islami.
Akhirnya, alih-alih untuk menciptakan kehidupan sosial yang lebih baik, tapi malah menimbulkan perpecahan dan perselisihan.
Karena kritik telah berubah fungsi menjadi sarana upaya-upaya penjegalan, menjatuhkan wibawa orang lain, mencari-cari kesalahan dan hal-hal negatif lainnya demi memuaskan keinginan subjektif pengkritik.
Secara terminologi kritik adalah pendapat atau tanggapan untuk menilai baik buruknya suatu pendapat, hasil karya, dan sebagainya.
Pada banyak kesempatan, kritik juga diartikan sebagai kecaman atau penilaian buruk.
Hanya saja hal yang terakhir ini hemat penulis, implementasi dari motivasi kurang tepat yang bermuara kepada tuding-tudingan tidak proporsional dalam menimbang dan menilai sebuah persoalan.
Maka permasalahannya sekali lagi bukan karena menyampaikan kritik itu dilarang dalam Islam, tapi bagaimana mengelola dan menyampaikan kritikan itu dengan baik dan benar. Bukankah agama itu nasehat, sabda Rasulullah kita yang tercinta.
Dan bukankah kritikan yang disampaikan itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari nasehat?!
Nah, bagaimana tips menyampaikan kritikan yang hikmah dan bijaksana,
Ada yang mempunyai pendapat sbb :
Pertama, perbaiki niat Kita
Karena kalo sedari awal, niatnya kaga bener,
kritikan-kritikan itu takkan tepat sasaran.
Banyak hal yang akan dilebih-lebihkan.
Yang penting ngomong dan orang yang anda kritik dengar atau tahu.
Ujung-ujungnya anda dapat bogem mentah dari yang dikritik.
Maka jangan salahkan yang dikritik memiliki mental anti kritik, karena bisa jadi mental itu terbentuk karena motivasi dan cara kita dalam menyampaikan saran dan kritik itu yang tidak benar.
Sekali lagi agama itu nasehat kata Rasulullah saw, bagi Allah, rasul-Nya, para pemimpin dan kaum muslimin (hadist).
Kedua, pahami persoalan sedalam-dalamnya.
Miliki informasi secukupnya.
Kemudian pertimbangkan kiri-kanan, atas-bawah, muka-belakang, timur-barat.
Maksudnya, jangan melihat persoalan dengan mengandalkan kaca-mata kita tok, apalagi pake kaca-mata kuda.
Karena besar kemungkinan sangat subjektif, mengedepankan ego pribadi.
Makanya Nabi kita begitu mewanti-wanti untuk memelihara lisan.
Sebegitu pentingnya beliau mensejajarkan kedudukan lisan dengan faraj.
Bahwa yang bisa menjaga keduanya bukan salah satunya, dijamin dengan imbalan syorga (hadist).
Ketiga, pakailah bahasa yang santun dalam menyampaikan saran ato kritik, kalau emang targetnya tulus untuk memperbaiki keadaan ke arah yang lebih baik.
Pakailah bahasa hati, insya Allah, pengaruhnya luar biasa kepada pihak yang anda nasehati. Bahasa yang santun bukan berarti tidak tegas.
Tegas menyampaikan kebenaran, dibungkus kesantunan dan terkontrol.
Dan yang terakhir ini menunjukkan kualitas kecerdasan emosional kita.
Terakhir, ketika kita telah menyampaikan pendapat, jangan ngotot untuk diterima.
Karena perbedaan cara pandang, watak, dsbnya, tetap merupakan keniscayaan.
Hanya bagaimana cara kita menyikapi perbedaan itu dengan akhlak yang baik dan santun. Rasul kita menyampaikan bahwa penghuni syorga yang memiliki tempat tinggal dekat dengannya adalah yang paling baik akhlaknya.
Mudah-mudahan saya, anda atau siapa pun adalah salah satu orangnya.
Amin ya Rabb! Good Luck!
Balas Dendam
Perilaku politik kita tiba-tiba jadi sederhana,
kalau tak balas dendam ya balas budi..
itupun belakangan kemudian jadi lebih sederhana lagi karena yang tersisa cuma perilaku balas dendam,tak ada lagi balas budi…
Ya balas dendam..
Ini menggelikan karena konon Politic itu akar katanya sama dengan Polite,yang artinya kesantunan,
sesuatu yang mewah dalam budaya manusia.
Dan karena mewah, tentu hanya dimiliki kelompok tertentu saja yang jumlahnya minoritas.
Selebihnya mereka cuma punya balas dendam..
Menggelikan…
Okey-lah tapi itu semua pilihan, toh sebenarnya semua tahu yang baik itu apa..
Dan apa konsekwensi dari pilihan itu..
Tanpa bermaksud memanjang lebarkan, berikut cerita penutupnya..
Selamat menggelikan
Alkisah hiduplah seorang Ratu yang mempunyai payudara yang sangat indah lagi menggiurkan.
Salah seorang praja bernama Kartasurya di kerajaan itu malah begitu terobsesi sampai sering memimpikannya.
Tapi dia tau gairahnya ini hanya akan membawa kematian kalau dia sampai berani mewujudkannya.
Tapi niatnya sudah bulat, apapun yg terjadi dia harus setidaknya bisa menyentuh dada sang ratu.
Sang praja akhirnya minta tolong kepada tabib istana.
Sang tabib bilang dia bisa mengaturnya tapi biayanya sangat mahal, 1000 keping koin emas.
Dengan serta merta sang praja setuju.
Besoknya sang tabib meramu serbuk gatal-gatal dan diam-diam menaburkannya ke dalam korset sang ratu.
Segera setelah mengenakannya sang ratu mulai gatal-gatal dan makin lama gatalnya makin parah.
Sang tabib segera dipanggil dan dia mengatakan hanya ada 1 obat yang bisa menyembuhkan gatal sang ratu, yaitu air liur dan itupun hanya air liur seorang tertentu, yaitu praja Kartasurya.
Sang ratu segera memanggil Kartasurya yang sebelumnya telah mengulum ramuan penangkal yg diberikan sang tabib kepadanya.
Dan selama beberapa jam Kartasurya dengan penuh gairah melampiaskan hasratnya, menciumi dan menjilati payudara indah sang ratu.
Segera sesudahnya gatal2 sang ratupun lenyap.
Dan praja Kartasuryapun dielu2kan sebagai pahlawan.
Sang Tabib segera menagih upahnya,
tapi Kartasurya rupanya tidak berniat membayar 1000 keping koin emas itu dan mengusirnya.
Pikirnya sang Tabib tidak akan mungkin berani membongkar masalah ini karena diapun terlibat dan pasti akan dihukum mati.
Sang Tabib tentu kecewa dan perilaku Kartasurya..
Besok harinya, sang tabib diam2 menaburkan serbuk gatal-gatal ke dalam celana dalam baginda Raja.
Dan ditengah kegaduhan itu lalu sang baginda teringat dan
Beliau segera memanggil Praja Kartasurya….untuk …..(maaf tak tega untuk meneruskan….he he)
Gubrag!!…
He he he
Ingat balas dendam dan balas budi dalam konteks PILKADA, saya ingat prilaku diantara keduanya.
Dalam satu Pilkades, ada tim sukses yang menerima aliran dana begiru besar untuk mensukseskan salah satu calon. Ironisnya, di tps terindikasi bahwa area yang menjadi tanggung jawab dia lalu kalah total. Maka sibuklah sang tim sukses untuk mencari celah menjadi pahlawan, caranya? mempersoalkan keabsahan pilkades dengan beragam alasan…
Hasil bukan tujuan, yang penting muka dia terselematkan dan tindakannya seakan menjadu penyeimbang akuntabilitasnya yang tercoreng gara-gara dia tidak berhasil mengeruk massa yang signifikan…
Y kambing hitam…Ya para penipu…ya para pecundang…begitu banyaknya di sekitar kita
Melihat dan membayangkan tape Bondowoso pertama selang waktu satu/dua malam rasanya senang dan nikmat sekali, selang waktu tiga malam mulai ada sedikit serangan, pada malam berikutnya hampir tak terkendalikan serangannya.
Untung ada tim tipikor serangan tidak begitu dahsyiat, karena tapenya dirubah menjadi Brem yang dapat dimamfaatkan kembali oleh N …… Masyarakat. Kecut-kecut sedikit yang penting ……. hahahahaaaaaaaaaaaaaaaaa ……….Bondowosokita.
Mungkin persoalannya terletak pada “konteks” dan “realitas”. Jadi Bung Zelec perlu telusuri 2 hal ini…
GERBON MAUT GETUN CONTOH-CONTOH MASA KINI
Nilai Pergeseran pola, budaya, motif, jarak, mental, dsb. sudah jauh darisempurna.
Berinvestasi , berhemat dan berpola pikir jernih untuk kemaslahatan abadi sudah dimaklumi sulit mungkin akan terjadi.
Pemandangan alam yang makin meredup, pemandangan udara dan langit yang makin semrawutt, bumi dan bangunan yang makin sesak, bangun dan bangunannya menjulang tinggi diudara bagaikan cagar alam yang selalu melindungi ummat, penerangan listrik yang tat kala halilintas menyambar.
Rakyat menangis, pemerintah mengelus
Pangkat dan Jabatan menjadi senjatanya, sedangkan kebijakan/penyimpangan dan harapan menjadi pelurunya, yang pada akhirnya sulit dipertanggung jawabkan.
Ini semua adalah contoh-contoh masa kini.
Contoh yang Lebih aneh lagi a,
masyarakat Bondowoso mayoritas petani,
sudah barang tentu petuah/pemerintah tidak terlepas ingin meningkatkan derajat kesejahteraan para petani lewat program dan proyek yang mendukung , tapi dinas atau pejabat yang berkopenten dibidang itu ini dpotong kepanjangan tangannya, contoh Dinas Pertanian Tanama Pangan,
Peternakan dan Perikanan mis.tidak mempunyai PPL. dan PPL yang ada lewat komando Ketahanan Pangan. ANIH ANIH ANIH APA TIDAK !!!!!!!.
Contoh lEBIH buruk lagi b, Mengandai-andai.
seandainya lembaga Ketahanan Pangan yang sementara ini merupakan komando PPL. Lalu PPL tsb ditugasi/diperintahkan untuk menjalankan suatu kebijakan dinas lain (mis. Dinas Pertanian Tanaman Pangan)lantas tidak sesuai dengan kebijakan yang ada di Dinas tersebut apa yang akan terjadi. Sudah barang tentu dan tidak asing lagi PPL yang ditugasi akan menjadi korban dan mengalami krisis kepercayaan (tidak dipercaya lagi oleh petani).
sekarang bukan saatnya membicarakan siapa yang menang, atau apa yang dilakukan supaya “dia” menang. palu sudah diketok, dan keputusan sudah diambil.
boleh jadi “ia” menukar suara rakyat dengan selembar uang 50 ribu, boleh jadi ia berjanji muluk yang kitapun tahu tak mungkin untuk terpenuhi.tapi itu sudah bukan lagi hal penting.
sekarang saatnya untuk bekerja….
bekerja dengan orang yang mungkin bukan pilihan anda, tapi dia sekarang pemimpin anda.
sekarang saatnya untuk memulai….
memulai mewujudkan semua yang diimpikan oleh masyarakat bondowoso, walau itu sulit.
tak ada yang tak mungkin…..
————————————————————————————
PUTRA DAERAH
Seperti sepakbola, saat peluit panjang dibunyikan yang tinggal hanya cerita dan bukan lagi pembicaraan yang bisa membatalkan hasil pertandingan. Lalu sesudah itu apa? Setuju dr rhefki..!
PKB lagi PKB lagi aduuh kapan makmurnya bondowoso… capeek deehhhhhhh
aku kasian ma bondowoso…..udah kecil anggota dprnya perutnya gendut – gendut
Didalam buku cergam anak-anak, tanda-tanda orang tidak beribadah seperti melawan perintah/larangan, gambar yang pasti gendut bagi orang yang tidak berpuasa.
Masaaaaaaaaaaaaaak perut dpr yang gendut melawan kewajiban kang JOJO !!!!!!.