Tak seujung rambutpun, aku membencimu,
Walau kutahu kau di jalan salah
Sebab aku menyadari, kau berbuat demi aku jua
Kadangku berprasangka..
Maafkan aku bapakku…
Tak secuilpun kata, aku mengejekmu,
Walau kutahu kau berdusta
Namun tanganmu gemetar, saat kau bertukar pandang
Dan matamu seakan berkata
Maafkan aku anakku…
………………………….
Berjalan kau di jalanmu,
Seiring dengan doaku
Bersama kalimah Satu, Tuhan itu Maha Besar
(Gombloh, Doa Seorang Anak Pencuri)
Sebuah paradoks nilai yang mungkin sulit dijelaskan, ketika kita simak sebuah pemaafan anak kepada bapaknya yang seorang pencuri, karena didasari sebuah kesadaran bahwa semua itu dilakukan demi dirinya, hidupnya, dan masa depannya. Mungkin lebih jauh lagi ada pesan tersembunyi yang hendak disampaikan, bahwa semua terjadi karena keadaan dan ketiadaan pilihan.
Dan jika kita melihat pada sosok Gombloh, seorang penyanyi dan pencipta lagu, yang super cuek dan bergaya hidup bar-bar, tanpa keteraturan dan keterikatan pada suatu sistem nilai, kita temukan lompatan besar pada penutup lagu, sebuah kondisi penggantungan harapan dan kepasrahan, hanya kepada-Nya
Pemaafan, yang dalam Al-Qur’an Lanjutkan membaca ‘Maaf…’
Komentar Terakhir