Halaman Arsip 2

04
Mar
08

Maaf…

Tak seujung rambutpun, aku membencimu,

Walau kutahu kau di jalan salah

Sebab aku menyadari, kau berbuat demi aku jua

Kadangku berprasangka..

Maafkan aku bapakku…

Tak secuilpun kata, aku mengejekmu,

Walau kutahu kau berdusta

Namun tanganmu gemetar, saat kau bertukar pandang

Dan matamu seakan berkata

Maafkan aku anakku…

………………………….

Berjalan kau di jalanmu,

Seiring dengan doaku

Bersama kalimah Satu, Tuhan itu Maha Besar

(Gombloh, Doa Seorang Anak Pencuri)

Sebuah paradoks nilai yang mungkin sulit dijelaskan, ketika kita simak sebuah pemaafan anak kepada bapaknya yang seorang pencuri, karena didasari sebuah kesadaran bahwa semua itu dilakukan demi dirinya, hidupnya, dan masa depannya. Mungkin lebih jauh lagi ada pesan tersembunyi yang hendak disampaikan, bahwa semua terjadi karena keadaan dan ketiadaan pilihan.

Dan jika kita melihat pada sosok Gombloh, seorang penyanyi dan pencipta lagu, yang super cuek dan bergaya hidup bar-bar, tanpa keteraturan dan keterikatan pada suatu sistem nilai, kita temukan lompatan besar pada penutup lagu, sebuah kondisi penggantungan harapan dan kepasrahan, hanya kepada-Nya

Pemaafan, yang dalam Al-Qur’an Lanjutkan membaca ‘Maaf…’




PEMILU 2009

Sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dari sitem ketata negaraan kita adalah adanya lembaga legislatif atau DPR/DPRD. Sejak lama keberadaan para anggotanya menjadi sorotan publik, karena terkesan bergelimang harta namun miskin kinerja. Sebenarnya, PEMILU menjadi ajang masyarakat untuk menghakimi mereka: PILIH YANG WARAS atau PILIH YANG MAU BAYAR? Ini saatnya kita menentukan pilihan...

 

November 2009
S S R K J S M
« Jul    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 3,800 hits