Di sini kita berbagi tentang Bondowoso, kota kecil yang nampak jalan di tempat. Mungkin ada yang bisa kita diskusikan dan mencoba mencari penyelesaian terhadap beberapa persoalan masyarakat Bondowoso, Salam…
Blog Lain Dari Bondowoso
Catatan Pinggiran
Peralatan
PILKADA
PEMILU 2009
Sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dari sitem ketata negaraan kita adalah adanya lembaga legislatif atau DPR/DPRD.
Sejak lama keberadaan para anggotanya menjadi sorotan publik, karena terkesan bergelimang harta namun miskin kinerja.
Sebenarnya, PEMILU menjadi ajang masyarakat untuk menghakimi mereka: PILIH YANG WARAS atau PILIH YANG MAU BAYAR?
Ini saatnya kita menentukan pilihan...
Tulisan Terakhir
Komentar Terakhir
| akhmad setiadi di BERITA BONDOWOSO | |
| bondowosokita di BERITA BONDOWOSO | |
| BONDOWOSO JANGAN MIS… di BERITA BONDOWOSO | |
| triwahyu di BERITA BONDOWOSO | |
| jobenk di BERITA BONDOWOSO |
Tulisan Teratas
| S | S | R | K | J | S | M |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Jul | ||||||
| 1 | ||||||
| 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
| 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
| 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
| 30 | ||||||
Blog Stats
- 3,800 hits
Mungkin ada baiknya kita mencoba mencari cermin besar sebagai pembanding. Benarkah dengan keadaan asal dan potensi sama kita benar-benar tertinggal dari kabupaten lain? terutama dalam 10 tahun terakhir, bagi saya sepertinya ya…
Mengungkap Penyimpangan Raskin.
Bulog Divre VI Bondowoso Distribusikan beras Busuk
Bondowoso.
Pemerintah pusat membuat program bantuan beras murah terhadap masyarakat yang tergolong miskin sangatlah membantu untuk kelangsungan hidup masyarakat kecil utamanya orang orang miskin.namun, yang terjadi dibalik program raskin banyak yang bermain dan mengambil kesempatan yang mengarah pada suatu keuntungan pribadi atau golongan.
Menyimak instruksi Presiden bahwa,program beras murah untuk orang orang miskin sangat dilarang untuk dibuat kebijakan kebijakan lain,sehingga banyak pejabat desa utamanya kepala desa yang terjerat hukum, karena bermain api dalam beras orang orang miskin.
Hasil pantauan dilapangan telah menemukan penyaluran beras murah bagi orang-orang miskin diseluruh desa di Kabupaten Bondowoso ditemukan tidak layaknya beras untuk dikonsumsi, bahkan sangat tidak layak untuk dimakan, selain itu berat timbangan perkarungnya banyak yang tidak sesuai dengan tonase kilonya, rata-rata beras yang telah di kemas dalam karung yang berlogo beras untuk orang miskin sebanyak 20 kilo gram, ternyata hanya 19,5 kilo gram. Diduga pengurangan tersebut telah lama, sejak ada program raskin. Kuat dugaan, pengurangan berat pada kemasan tersebut dilakukan secara terorganisir.
Investigasi kepada salah satu pemilik gudang penggilingan padi yang punya kontrak dengan Bulog menjelaskan, tentang berat yang dikemas untuk raskin semuanya sesuai dengan berat yang sudah ditentukan,kalau memang dari penggilingan kurang tentunya pada saat pengiriman kegudang Bulog akan dikembalikan,”digudang Bulog kan ada juru timbangnya,jadi setelah beras masuk gudang maka bukan lagi tanggung jawab penggiling”terangnya.sambil wanti-wati tidak mau disebut namanya.
Seperti yang terjadi di desa Jebung lor beberapa waktu yang lalu, hasil konfirmasi dengan salah satu warga, Misyami 30 tahun, mengaku bahwa, beras yang didapat dari Pemerintah melalui Bulog sangat tidak layak untuk dimakan, menurutnya, berasnya bau apek dan hancur seperti beras mennir,”masak beras seperti itu yang diberikan kepada keluarga miskin” kata Misyami, dia menambahkan, selain berasnya kwalitasnya jelek juga berat timbangan tidak sesuai dengan keterangan yang ada di sampul kemasan karung,”saya sabagai keluarga miskin sangat tersinggung diperlakukan seperti itu oleh Bulog,masak beras seperti itu diberikan kepada keluarga miskin” tandasnya. Selain itu, sambungnya, nasi setelah dingin tidak bias dimakan lagi, karena nasinya berair seperti basi,”apa memang beda beras orang kaya dengan orang miskin” imbuhnya.
Ditempat terpisah, Kepala Bulog Divisi Regional VI Kabupaten Bondowoso Tri Fajariyanto, ketika dikonfirmasi diruang kerjanya, mengaku dan membenarkan kejadian tersebut, hal itu karena untuk menghabiskan stok raskin tahun 2007, pihaknya siap mengganti apabila ada beras seperti itu lagi. Sedangakan stok beras yang mencapai 6500 ton tersebut akan ahabis pada bulan April 2008,”sebelumnya memang disortir agar layak diberikan kepada masyarakat, tapi kalau masih ada pendistribusian beras semacam itu lagi kami akan menggatinya” kata Tri kepada Suara Publik.
Mantan kabulog Divre Jaya Pura Papua ini juga menandaskan, bahwa untuk kebutuhan raskin di kabupaten Bondowoso setiap bulannya mencapai 2,396,850 ribu kilo gram untuk 159,759 Rumah tangga miskin (RTM). Ketika disinggung tentang pengurangan dalam kemasan karung yang mencapai 5 kilo gram perkarung, Tri mengaku bahwa hal tersebut dikarenakan lamanya beras yang tersimpan digundang selama 8 bulan,padahal, lanjut Tri, timbangan tersebut telah sesuai dengan timbangan sebelum didistribusikan kepada desa-desa,”kalau memang ada beras yang kurang tidak sesuai dengan kilonya saya siap mengganti” janjinya.
Tudingan miring dari berbagai pihak yang mengarah ke Bulog ditanggapi biasa, bahkan, Tri Fajariyanto selaku penanggung jawab di Bulog sepertinya tidak mersa bersalah, walaupun yang menanggung dampaknya adalah masyarakat miskin di Bondowoso.
Sekali lagi persoalannya adalah kemiskinan berhadapan dengan kekuasaan. Sudah tahu hak masyarakat miskin, tetap saja dikemplang. Bulog sebagai otoritas tunggal cadangan beras memang bisa berbuat apa saja. Toh saat secara administrasi semua beres, tidak ada lagi yang perlu dipertanggung jawabkan..Betapa sialnya nasib masyarakat miskin..
PKB Muskit di Hotel, 5 Parpol MK di Jakarta
Bondowoso,
Menjelang pemilihan Bupati dan Wakil Bupati di Kabupaten Bondowoso terus memanas, para pimpinan Parpol terus menggalang kekuatan untuk mengusung balon Bupati dan balon Wakil Bupati.
Di Hotel berbintang 3 Partai Kebangkitan Bansa (PKB) 6-3 beberapa hari yang lalu telah mengadakan musyawarah kebangkitan (Muskit), selain para pengurus Cabang, PAC PKB, tokoh ulama, para Kiyai juga turut hadir dalam acara Muskit, juga hadir dalam acara tersebut Bupati Bondowoso DR.H.Mashoed M.Si, dan Bupati Probolinggo H. M. Hasan Aminuddin dan beberapa pejabat Muspida kabupaten Bondowoso.
Acara yang digelar oleh pengurus DPC PKB Bondowoso terfokou kepada pemaparan misi dan visi balon bupati, Drs.H.Samsul Hadi, Amin Said Husni, Zainol Fauzan, Hudari. sementara dari balon bupati, KH Zainol haq dan Haris Sonhaji, dalam pemaparannya balon bupati dan balon wakil bupati hampir sama, yang disampaikan adalah tentang ekonomi kerakyatan yang langsung menyentuh kepada masyarakat.
Diantara para elit politik yang hadir dalam mukit juga menyinggung tentang putra daerah yang diinginkan oleh masyarakat Bondowoso untuk memimpin Bondowoso kedepan karena, selama ini Bondowoso telah dipimpin oleh orang luar Bondowoso.
Menanggapi hembusan harus putra daerah yang diinginkan rakyat Bondowoso, KH.hasyim Husnan ketika dikonfirmasi Suara Publik mengatakan “bagi saya, ada impian masyarakat yang perlu difasilitasi pemimpin baru nanti, kalau tidak memenui syarat ini, sebaiknya harus mencari yang lebih mungkin” katanya.
Selain itu kata mantan ketua DPC PKB ini, pihaknya juga memahami suara yang berkembang dimasyarakat tentang putra daerah, hal itu perlu diselaraskan dengan kebutuhan daerah, “putra daerah yang tidak dipandang mampu membawa kebutuhan daerah, jelas bukan pilihan,difinisi putra daerah juga perlu jelas”paparnya.
Selain itu, sambung Politisi muda ini, DPP PKB tidak otomatis meloloskan pendaftar yang ada,Tim DPP yang terus menjajaki kapabilitas calon dan kemungkinan menang. Ketika ditanya Suara Publik, kenapa bukan anda sebagai putra daerah yang mendampingi Amin said?”masak duet sama ipar”kelakarnya menutup pembicaraan dengan Suara Publik.
Sementara itu, 5 parpol pada hari sama juga mengadakan musawayarah kualisi (MK) di Jakarta, yang mewakili masing-masing parpol diantaranya, PPP diwakili oleh ketua Majlis Pakar,Munawir, partai Golkar,Achmad Karyadi, PDIP,Endin, PKS, Budi Hartono dan Partai Demokrat H.Supatno.
Menurut perintis MK 5 parpol no PKB,Munawir menyatakan, awalnya pihaknya dipanggili DPP PPP bersama KH.Imam Tahir dalam erangka membahas kualisi dengan beberapa partai untuk mengusung putra daerah, menurutnya, yang harus mempimpin Bondowoso kedepan adalah asli orang Bondowoso dan lahir di Bondowoso,”apakah tidak ada putra Bondowoso yang berkemampuan untuk memimpin”terang Nawir sembari bertanya.
Setidaknya, lanjut Nawir, putra Bondowoso yang mengerti situasi dan kondisi masyarakatnya,”bukan saya tidak setuju Bondowoso dipimpin oleh orang luar tapi, setidaknya ada putra daerah yang tau seluk beluk dan krakter Bondowoso”tandasnya. Dikatakan, bahwa kalau orang luar Bondowoso dikwatirkan tidak bisa beradaptasi dengan warga Bondowoso,”saya pesimis, kalau Bndowoso dipimpin oleh orang luar, berarti Bondowoso tetap dianggap tidak punya kemampuan untuk mencetak pemimpin masa depan, malu dong daerah sendiri dipimpin oleh orang luar”imbuhnya.
Ditempat yang sama perwakilan dari Partai berlambang Beringin Ahmad Karyadi mengaku bahwa, pihak ke Jakarta memang dalam rangka penjajakan untuk membahas MK,”demi masyarakat Bondowoso, Golkar akan melakukan yang terbaik untuk menjawab keinginan rakyat” tukas Karyadi kepada Suara Publik. Ketika disinggung tentang langkah putra daerah yang akan diusung Golkar untuk pilbub dan pilwabup nanti mengatakan,”ini dalam rangka membicarakan dan membahas langkah untuk menyatukan sikap” akunya.
Sampai berita ini ditulis perwakilan 5 parpol bertekad untuk mengusung putra daerah yang akan di calonkan menjadi bupati dan Wakil Bupati, namun, pihaknya belum memastikan siapa siapa yang maju. (her)
PILKADA DIAMBANG PINTU
ada persoalan yang sangat krusial untuk kita sikapi yaitu, Pilkada sudah diambang pintu, tentunya kita sebagai warga Bondowoso sangat amat merindukan ketentraman dan kedamain. selagi kita masih bisa untuk memimlih dan memilah, siapa yang lebih pantas untuk memimpin Bondowoso kedepan. namun, persoalannya sekarang lain, mereka lebih mementingkan kepentingan sesaat daripada kepentingan jangka panjang.
kita sebagai warga Bondowoso yang beradab,sangat mustahil untuk hidup damai, berkecukupan tanpa didasari oleh suatu keinginan yang bulat untuk segera bangkit dari keterpurukan jika kita salah memilih, kita punya hati, kita punya nurani dan kita punya keinginan, mari kta bersama-sama bulatkan tekad untuk menuju masa depan yang lebih cemerlang, siapapun yang terpilih, putra daerahkah…..? atau non putra daerah, yang terpenting mereka punya niatan untuk mengubah sistem yang selama ini terkesan mengesampingkan kepentingan kita sebagai warga bondowoso.
mari kta bersama-sama memohon kepada Ilahi Robbi, agar kita mempunyai pemimpin yang diridhoiNya. semoga pula mereka yang mempunyai niat tulus dan ikhlas untuk membawa Bondowoso menjadi Baldhatun thoyyibatun warobbun ghofur mendaptkan jalan yang lurus tanpa rintangan dan hambatan. Amin…..
Sangat perlu bagi kita semua untuk kembali pada pola pikir mendahulukan kepentingan masyarakat. Politik adalah sarana itu, jadi harus dibedakan antara politik dan politicking. Semoga tak ada maksud-maksud picik dan sekedar kepentingan pribadi subyektif dari para “pemegang kendali permainan”
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
PC NU Bondowoso Salahi AD/ART
Bondowoso, Suara Publik.
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama’ (NU) hari ini (5-4) menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi yang dilaksanakan di gedung Gelora Pelita Bondowoso. Hadir dalam acara tersebut sesepuh NU, kakak kandung ketua umum PBNU KH.Hasyim Musadi. yaitu, KH Muhcit Musadi bersama dengan Pengurus PW NU jatim KH.Miftahul Achyar. Selain itu, para politisi,kandidat calon Bupati dan wakil Bupati serta pengurus cabang, MWC dan ranting NU sekabupaten Bondowoso.
Kekhidmatan dalam mengikuti acara tahunan tersebut, para warga NU yang hadir mempersoalkan lambang NU yang ditempelkan dipintu masuk Gelora Pelita, menurut warga NU karena, dalam logo atau lambang NU dasar warnanya dirubah menjadi kuning, padahal, dasar warna adalah warna hijau,bukan warna kuning, mereka menganggap pengurus cabang NU telah menyalahi dan melanggar AD/ART NU yang sebenarnya harus dipatuhi, kendati demikian, para warga NU yang hadir tidak berani protes, karena takut mengganggu jalannya acara.
Katua PCNU Bondowoso KH Abdul Kadir Syam ketika dimintai keterangan hanya tertunduk, pucuk pimpinan NU Bondowoso itu tidak bisa memberikan keterangan terkait perubahan warna dasar logo NU tersebut. Sementara itu,yang mendampingi tokoh NU itu, KH Kamil Haddadi, ketua GP Ansor Cabang Bondowoso menerangkan, kalau masalah dasar lambang NU yang dasarnya di cat kuning juga tidak banyak komentar,”kalau masalah lambang yang dicat kuning itu, tergantung yang menafsirkan”katanya singkat.
Ditempat yang sama A.Zainollah SH. Ketua Lembaga penyuluh dan bantuan hukum (LPBH-NU) ketika dikonfirmasi terkait persoalan perubahan warna dasar tersebut menyatakan, bahwa, hal tersebut atas saran dari Rois Syuriah, agar warnanya menjadi kelihatan cerah,sehingga beliau, kata Zainollah, biar terterlihat indah.
Diakui, walaupun menyalahi AD/ART, pihak PCNU tidak niatan untuk mempolitisir warga NU untuk mendukung calon Bupati dan Wakil Bupati.”tidak ada unsur politik di NU, dan tolong jangan dikaitkan dengan pilkada” ujarnya. Zainollah menambahkan, walaupun KH.Sobri Wasil Ghazali, salah satu kader NU digait oleh calon Bupati dari partai Golkar,H.M.Misnan, pihaknya masih menepis anggapan bahwa, perubahan dasar logo NU tidak ada kaitan dengan politik pilkada,”ini murni pengajian NU dalam rangka memperingati malid Nabi” tandasnya.
Ditempat terpisah, Tokoh politik dari PKB KH.Hasyim Husnan, menanggapi perubahan warna dasar NU menganggap bahwa, yang rentan dirubah adalah manusianya atau pengurusnya, bukan warna lambangnya, karena setiap warna yang dibuat ada artinya, dan hal ini sangat berpengaruh pada NUnya, dia juga menilai, PCNU tidak menganggap penting, “padahal, tentang warna tersebut ada di AD/ART”kata politisi asal Tamanan ini.
Selain itu, mantan ketua PKB ini menilai, kepedulian pengurus Cabang NU Bondowoso yang meluntur, “politik memang sangat mudah membuat tertarik dan melenakan” bebernya. Selanjutnya, sambung anggota DPRD Bondowoso ini, “lambang itu hasil istikhoroh, buakan hasil design garafis” jelasnya. Dia menambahkan, pihaknya berharap agar persoalan ini dikembalikan kepada khittah “jadi khittah juga menyangkut lambang dan harus kembali ke asalnya”pungkasnya. (her)
Ada kritik pada umat Islam yang terlalu berpikir simbolik, artinya kalau simbol agama yang disentuh dia mudah marah, walau prilaku pribadinya tidak agamis. Namun dalam menyikapi lambang sebagai simbol, harusnya kita lebih perduli. Dan dalam konteks ini, memelihara lambang dan simbol bukan bagian dari berpikir simbolik. Benarkah dengan mudahnya ada saran untuk dipercerah? apa itu tidak sekedar jawaban asal saja…?
“Dunia adalah komedi bagi mereka yang melakukannya,
Tapi tragedi bagi mereka yang merasakannya.” (Horace Walpole)
Kita ini pelaku atau Korban ?
Anda sendiri yang bisa menjawab..
Anda bisa cuci tangan,mengaku bukan pelaku, tapi juga korban…
Bisa saja kemudian semua ikut-2an mengaku sebagai korban, hanya demi melepas tanggung jawab.
Sang eksekutor mengaku korban sistem
Sang bawahan mengaku hanya menjalankan perintah atasan..
Kesalahan kemudian jadi persoalan struktur.
Semua jawaban taktis itu keluar dari Otak
tapi bukan dari Hati..
Kita ini ingkar nikmat..
Punya hati tapi dimatikan
Maukah anda mencolok mata anda sendiri sampai buta..
tentu tidak…
Tapi kenapa anda justru tampak riang saat anda mematikan fungsi hati
Tanpa empati ?
Apa yang anda lakukan bisa menjadi doa…
Bila anda mematikan fungsi Hati…
Tak usah mengeluh kalau kemudian hati/Liver anda jadi rusak..
Amien……..
Hukum sebab akibat membuat kita sulit menentukan: “dahulu mana telur dengan ayam?”. Posisi seseorang dalam kausalitas hidup kadang berada dalam suatu nuansa atau perbedaan yang tipis sekali. Nabi Muhammad mengajarkan :” Jika kau lihat kemungkaran, rubahlah ia dengan kekuatan atau kekuasaanMu, jika tidak mampu, maka (rubahlah) dengan lisanmu, jika tidak mampu, maka (rubahlah)dengan hatimu, dan itu adalah paling lemahnya Iman”
Persoalan apakah seseorang mengambil tindakan dalam skala kuat atau lemahnya iman adalah penilaian dari luar, dan situasi serta kondisi yang melingkupinya tentu tidak dapat diabaikan. Sering kita tidak dapat membedakan apakah seseorang itu pemberani ataukah konyol. Si Pungguk yang merindukan bulan adalah tamsil dari sebuah utopia. Namun sebuah rindu, siapa yang dapat mencegah?
Sahabat Bilal adalah seorang yang kuat, yang mempertahankan keyakinannya dengan “telanjang” tanpa tedeng aling-aling, pun walau dia dihimpit batu dan disiksa. Dan seseorang yang bertugas menjadi mata-mata, tetap tidak akan mengaku walau beresiko kematian. Dari dua contoh ini, kita tidak dapat serta merta mengatakan Bilal jujur dan mata-mata adalah pembohong.Ada KONTEKS dan PROPORSI dalam setiap persoalan
Apakah pemikiran dan kalimat Horace Walpole mutlak benar? jika disandarkan pada tragedi kehidupan manusia, jawabnya adalah YA. Namun jika dikembalikan pada sunnatullah bahwa manusia memiliki nurani, maka jawabnya adalah tergantung pada :”Apa jenis lakon yang dilakukan?”
NAmun bagaimanapun, berbahagialah mereka yang mau dan sempat berbuat baik walau dalam skala sekecil dan selemah apapun…
PEMILIHAN UMUM KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH
Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, atau seringkali disebut Pilkada, adalah pemilihan umum untuk memilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara langsung di Indonesia oleh penduduk daerah setempat yang memenuhi syarat.
Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah adalah:
• Gubernur dan Wakil Gubernur untuk provinsi
• Bupati dan Wakil Bupati untuk kabupaten
• Walikota dan Wakil Walikota untuk kota
Sebelumnya, Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Dasar hukum penyelenggaraan Pilkada adalah Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam undang-undang ini, Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah) belum dimasukkan dalam rezim Pemilihan Umum (Pemilu). Pilkada pertama kali diselenggarakan pada bulan Juni 2005.
Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum, Pilkada dimasukkan dalam rezim Pemilu, sehingga secara resmi bernama Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Pilkada pertama yang diselenggarakan berdasarkan undang-undang ini adalah Pilkada DKI Jakarta 2007.
Penyelenggara Pilkada
Pilkada diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota dengan diawasi oleh Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Provinsi dan Panwaslu Kabupaten/Kota.
Peserta Pilkada
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, peserta Pilkada adalah pasangan calon yang diusulkan secara berpasangan oleh partai politik atau gabungan partai politik.
Adanya ketentuan peserta Pilkada hanya bisa dicalonkan oleh partai politik atau gabungan partai politik dianggap bertentangan dengan UUD 1945. Lalu Ranggalawe, anggota DPRD Kabupaten Lombok Tengah, mengajukan Uji Materiil atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Pada tanggal 23 Juli 2007, Mahkamah Konstitusi menyatakan sebagian pasal dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang hanya memberi kesempatan kepada partai politik atau gabungan partai politik dan menutup hak konstitusional calon perseorangan (independen) dalam Pilkada bertentangan dengan UUD 1945.[1]
Dasar Hukum Penyelenggaraan PILKADA
• Undang-undang (UU) Nomor: 32 tentang Pemerintah Daerah
• Peraturan Pemerintah (PP) Nomor: 17 tentang PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG PEMILIHAN, PENGESAHAN PENGANGKATAN, DAN PEMBERHENTIAN KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH
• Undang-undang (UU) Nomor: 32 tentang Penjelasan Pemerintahan Daerah
• PP Pengganti UU Nomor: 3 tentang PERPU NO 3 TAHUN 2005
====================================
Bupati
Bupati (dari bahasa Sansekerta: bhûpati, “RAJA DUNIA”), dalam konteks Otonomi Daerah di Indonesia adalah Kepala Daerah untuk daerah Kabupaten. Seorang Bupati sejajar dengan Walikota, yakni Kepala Daerah untuk daerah Kota. Pada dasarnya, Bupati memiliki tugas dan wewenang memimpin penyelenggaraan daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD Kabupaten. Bupati dipilih dalam satu pasangan secara langsung oleh rakyat di Kabupaten setempat. Bupati merupakan jabatan politis (karena diusulkan oleh partai politik), dan bukan Pegawai Negeri Sipil.
Sebelum tahun 1945 gelar bupati sebenarnya hanya dipakai di pulau Jawa, Madura dan kemungkinan Bali saja, namun setelah tahun 1945 digunakan di kabupaten seluruh wilayah Indonesia.
Kita selalu menunjuk amerika sebagai contoh lamanya sebuah negara menuju negara dengan demokrasi yang baik. Tapi memangnya Demokrasi Amerika itu baik? Atau apa Demokrasi memang hal yang baik?. Jangan-jangan kita telah mencoba menuju sesuatu yang aslinya tidak baik, dengan cara tidak baik pula.
Model pemilihan kepala daerah langsung ataupun tidak langsung, mengandung sisi positif dan negatifnya sendiri. Harapannya, siapapun menjadi pemimpin, dia tetaplah sosok yang baik, dengan niat baik, prilaku baik, dan menjadi semakin baik, hingga akhir yang baik…yang lalu biarlah berlalu…
PENYAKIT DALAM KAMPANYE
Terkait dengan pelaksanaan PILKADA, maka tak lama lagi kita akan disodori dengan kegiatan kampanye dari beberapa calon.
Ada beberapa pilihan tindakan kampanye yang mungkin akan dilakukan oleh para calon, ada yang mendidik ada yang sekedar menghibur tapi ada juga yang merusak, mari kita cermati satu persatu.
Kampanye pada dasarnya adalah upaya dari tokoh-tokoh politik ataupun partai politik untuk mempromosikan dirinya. Tujuannya adalah mendapatkan dukungan rakyat.
Kampanye yang ideal adalah Kampanye Program, yaitu kampanye yang menjelaskan program-program yang akan dilakukan oleh sang calon jika berkuasa.
Dalam kampanye semacam ini rakyat disuguhi berbagai tawaran, kemudian rakyat tinggal memilih program kebijakan yang dirasakannya terbaik.
Tapi walau Kampanye Program adalah kampanye ideal,
namun jenis kampanye ini jarang dipilih untuk dilakukan, dengan alasan tidak semua rakyat sabar dan mempunyai waktu untuk meneliti berbagai program yang ditampilkan tokoh atau partai politik.
(Atau mungkin juga karena mereka yang bersaing tidak mempunyai agenda kebijakan yang jelas ??? ha ha ha).
Sehingga yang sering dipilih kemudian adalah Kampanye Retorika, yaitu kampanye yang hanya melontarkan jargon politik dengan tema besar tanpa rincian bagaimana hal itu bisa tercapai.
Tapi lagi-lagi, baik Kampanye Program maupun Kampanye Retorika sama sekali tidak menarik untuk dilakukan, karena kenyataannya tidak mampu menarik perhatian rakyat yang tingkat pemahamannya masih rendah.
Karena itu sering politisi atau partai politik kemudian menggunakan Kampanye Dangdut, yaitu kampanye yang mengutamakan berbagai atraksi hiburan untuk menarik perhatian massa sambil menyisipkan jargon-jargon politik.
Memang pada kondisi sekarang, kampanye jenis ini, Kampanye Dangdut, tidak membantu rakyat menjelaskan pilihan-pilihan politiknya. Namun bersamaan dengan meningkatnya tingkat pendidikan rakyat, kampanye dangdut akan semakin berkurang porsinya.
Kampanye Program jelas bersifat ideal dan positif.
Kampanye Retorika tidaklah ideal tetapi masih ada positifnya.
Sementara Kampanye Dangdut mungkin tidak banyak gunanya bagi rakyat, tapi setidaknya tidak bersifat negatif. Sejelek-jeleknya, kampanye dangdut adalah hiburan gratis bagi rakyat.
Tetapi ada dua jenis kampanye yang nyata-nyata merusak.
Yang pertama adalah Kampanye Negatif (Negative Campaign) ,
yaitu kampanye yang dilakukan dengan menjelek-jelekkan lawan politik.
Kampanye jenis ini tidak berusaha mengemukakan program atau tema kampanye tertentu, tetapi justru berusaha mengungkapkan kejelekan dan aib lawan politik.
Tujuannya agar rakyat tidak memilih lawan politiknya sehingga kemenangan bisa diraihnya.
Kedepannya, jika kampanye negatif ini terus mendominasi, maka rakyat akan muak kepada kehidupan politik, dan sistem politik menjadi terdelegitimasi.
Karena itu, sistem politik yang baik tidak mendukung praktik kampanye negatif.
Yang terburuk adalah Kampanye Hitam (Black Campaign).
Yaitu kampanye negatif yang menggunakan fitnah terhadap lawan politik.
Jika kampanye negatif masih menggunakan fakta, (walau sering dilebih-lebihkan), maka Kampanye Hitam menjual fitnah, sesuatu yang tidak benar, tidak didukung fakta dan tidak berdasar sama sekali.
Kampanye hitam adalah cara murahan untuk mempengaruhi persepsi publik terhadap lawan politik.
Kampanye hitam ini harus diberantas sedini mungkin sebelum menjadi kanker yang merusak tatanan sistem politik kita.
Jangan memilih calon yang mempraktikkan kampanye Hitam yuuuuk !!!!
swalayan pulsa
salam
hai temen2 semua
aku ada info sebentar nehhh
zaman sekarang orang lebih suka belanja ke supermarket.begitu juga dengan belanja pulsa.. untuk itulah kami tawarkan kepada anda sebuah produk “swalayan pulsa dan kios pulsa”.. jadi pelanggan dapat langsung mengisi pulsa sendiri,memasukkan no hp sendiri dan akan langsung dicetak/di print nota transaksi tersebut… juga bisa digunakan untuk WARTEL SMS..
selain itu kami juga sedang mencari dealer pulsa elektrik<tanpa biaya pendaftaran,tidak perlu tempat untuk jualan.
info http://www.cendana2000.com hidayat@cendana2000.com
Contact Person : dayat
Alamat : Ruko Permata Griya Shanta NR. 24-25 malang
Telepon : 085649885526
EmailThis e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it Homepage
Stalemate, sebuah jenis dari proses akomodasi memiliki makna penghentian suatu pertikaian karena pihak-pihak yang bertikai sama-sama tidak melihat peluang untuk menang walau tidak juga kalah. Kondisi ini membuat mereka sama-sama menahan diri untuk lebih bersikap wait and see.
Kalau ada pertikaian fisik atau perdebatan sampai gebrak meja, kita akan mengatakan :”apa tidak bisa dengan kepala dingin?”. Kalau kondisi panas kemudian tidak saling hantam, kita juga bertanya:”kok tidak tawur ya?”. Atas nama keduanya, sering kita dengar kalimat: budaya kita sebenernya…….(dst, dst), yang pada pokoknya kalimat-kalimat tersebut menjadi justifikasi pilihan sikap ataupun pembenar kritik.
Tapi percayalah, titik yang sama akan membuat orang mengambil sikap berbeda: sama dewasanya, sama tidak dewasanya, sama yakinnya, sama tidak yakinnya, atau…sama bingungnya!
“TIM SUKSES” DALAM STRATEGI PEMENANGAN KEKUASAAN
Sebuah usaha PEMENANGAN yang sekarang sedang hangat di kota TAPE tercinta adalah PILBUP-WABUP yg akan di gelar masyarakat Bondowoso, suatu usaha yg tidak murah dan tdak mudah untuk menempati posisi P1 / P2, sebuah EUFORIA yang dapat mengundang bermacam2 kepentingan masuk kedalam sebuh kelompok bernama “TIM SUKSES”, MENGAPA??? Karena ada KEKUASAAN dan DANA yang tidak sedikit didalamnya.
Sebuah TIM SUKSES yang kuat, solid dan ber-management rapi, akan menurunkan biaya dan memperbesar kemungkinan sebuah pemenangan, setiap langkahnya selalu terarah dan fokus pada masing2 tugas tiap2 tim. Suatu kesalahan dalam membentuk sebuah TIM SUKSES hanya akan membuang2 waktu dan biaya. Sebuah tim yang kuat tidak harus selalu terdiri dari banyak anggota, sedikit tapi memang ahli dibidangnya masing2 akan jauh lebih mudah dalam memantau hasil kerja dari masing2 tim kerja. Dan yang paling perlu diwaspadai adalah orang2 yang memiliki KEPENTINGAN PRIBADI di dalam sebuah TIM SUKSES (yang tidak terlalu mementingkan pemenangan calon, namun dapat mengambil keuntungan selama proses pemenangan), ini berbeda dengan orang yang memiliki KEPENTINGAN PRIBADI dalam PEMENANGAN (yang berharap sesuatu setelah kekuasaan dimenangkan).Walaupun semua yang terlibat dalam sebuah tim pasti memiliki sebuah kepentingan,karena mereka hanyalah manusia yang memang perlu makan….
Kemampuan memonitor seberapa besar modal, kekuatan dan langkah2 lawan politik, bagaimana SDM & POLA PIKIR MASYARAKAT PEMILIH yang harus dibedakan pada usia, wilayah, pekerjaan, pendidikan, dll. MUTLAK harus dilakukan sebuah TIM SUKSES agar mereka bisa segera mengambil tindakan dalam memenangkan calon mereka masing2.
Seperti apa TIM SUKSES yang kuat dan hebat??? Saya rasa masing2 kelompok sudah memiliki ahlinya masing2, dan masing2 sudah siap dengan DANA yang pasti tidak sedikit, namun sepertinya masing2 kelompok hanya memusatkan perhatian pada sebuah kelompok / oganisasi / perorangan yang diharapkan dapat menambah kantong2 suara pemenangan, padahal kenyataannya pada hari H pencoblosan bukan gambar partai / kelompok yang kita coblos, tapi gambar CALON , bukan berarti merangkul kelompok / partai lain tidak penting, tapi menurut saya pribadi akan jauh lebih baik bila masyarakat lapis bawah mengenal betul siapa calon yang akan dipilih, disini psikologi massa, sugesti massa, amat sangat berperan penting. Dan hal yang berkaitan dengan massa ada beberapa faktor, seperti media massa baik cetak (koran, tabloid, pamflet, poster, dll), elektronik (dalam cakupan daerah Bondowoso mgkn hanya Radio). Kecuali ada beberapa partai dgn SDM kadernya yang mayoritas tinggi dan solid (mgkn diantaranya PKS, DEMOKRAT, PAN dan GOLKAR). Kader partai tersebut dapat diarahkan oleh partai masing2, tapi jgn berharap mendapat suara dari partai dengan mayoritas kadernya yang ber- SDM rendah. Membeli suara dari partai dengan kader ber-SDM rendah hanya akan menguntungkan pengurus partai itu sendiri tanpa memberikan apa2 pada pembeli suara.
Dengan waktu yang hanya tidak lebih dari 60 hari bagi masing2 TIM SUKSES para CABUP tentu bukanlah hal yang MUDAH, ini tergantung dari TIM SUKSES masing2, walau bukan hanya TIM SUKSES faktor UTAMA dalam pemenangan sebuah pasangan CABUP & CAWABUP, ada beberapa faktor pendukung lainnya yg cukup berperan. TIM SUKSES adalah MARKETING dalam menjual sebuah FIGUR dengan memanfaatkan segala sumberdaya yang dimiliki oleh sebuah kelompok. Jadi bagaimana cara sebuah “TIM SUKSES” menjual produknya akan sangat berpengaruh pada pemenangan kelompok mereka.
Mungkin banyak analisa saya yang salah atau tidak tepat, tidak ada maksud lain dari penulis selain ingin ikut berpartisipasi dalam PIL-BUP & WABUP dengan kemampuan terbatas yang dimiliki oleh penulis, silahkan koreksi/bantah tulisan saya agar dapat menambah pengetahuan & wawasan penulis tentang dunia politik dalam lingkup kecil KOTA TAPE tercinta….
Penulis :
ZAFIN
Mantap…salam kenal dari kang irwan. Monggo mampir di kangirwan.wordpress.com
Yang mantap maksudnya blognya…cinta banget sama Bondowoso…. he…he..
Cinta mati Kang, he he…siapa lagi yang mau cinta tanah sendiri, disaat lagi musimnya “menjuual semuanya” ha ha…
PUPUK DAN PPL KU KEMANA ????????
Dalam md radar ut Bondowoso, terbitan edisi 26 okt 2008 kalau tidak salah Beliau (Bapak Bupati) Yang terhormat menginkan/mengajak petani maju, pertanian organik sabdanya,. Dan penataan petugas (PPL) himbauan dari wakil kita.
Sehubungan diatas, Maaf Bapak Bupati kami putra/putri Bondowoso sangat mengharapkan penataan dimaksud, agar kami tidak kehilangan PUPK dan Petugas Penyuluh Lapangan(PPL). Kami sangat membutuhkan karena tanpa penyuluh sekan-akan kegiatan kami dilapangan hampa tak terkontrol.
Kepada para Penyuluh(PPL), sengko’ kangen kadhika, oladhi tang pertanian nikah napa ponbagus, ponapa gi’ jubek otabe tak cocok kalaben tehnis. Ha…haa…..haaaa
Maju terus bondowosoku tercinta…